Dari Jalur Rempah hingga Golf Pesisir, Peluang Besar Wisata Lansia Indonesia
Rabu, 28 Januari 2026 | 11:30
Penulis: Arif S

Sumber: Pixabay
Di tengah perubahan demografi global, perjalanan tak lagi sekadar tentang jarak atau destinasi yang ditaklukkan. Bagi banyak pelancong lanjut usia, wisata adalah ruang untuk merawat kesehatan, mengenang masa lalu, dan menikmati hidup dengan ritme lebih tenang.
Indonesia, dengan kekayaan budaya dan lanskapnya dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan Wisata Lansia atau Geronto Tourism.
Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) mendorong pemerintah melihat segmen ini sebagai salah satu masa depan pariwisata nasional. Menurut ICPI, pariwisata seharusnya inklusif dan ramah bagi semua kelompok usia.
BACA JUGA
Liburan ke Jepang Makin Digital, Turis Harus Isi Data Sebelum Berangkat
Senior Happy Run 5K 2026 Ajak Lansia Berlari Sambil Promosikan Pariwisata
"Jadi pariwisata itu untuk siapa saja, bukan hanya untuk orang-orang yang sehat. Jadi untuk lanjut usia dan tadi untuk kebugaran, anak-anak, ini yang kita kurang di sana," kata Ketua Umum Azril Azhari, Selasa.
Azril menilai potensi wisata lansia di Indonesia sangat besar, terutama jika dikaitkan dengan warisan sejarah dan budaya lokal.
Destinasi-destinasi yang menawarkan pengalaman mendalam dinilai lebih relevan bagi wisatawan lanjut usia.
Dua pasar paling potensial adalah Belanda dan Jepang. Lansia dari kedua negara tersebut dikenal memiliki minat besar menikmati masa tua secara berkualitas, memanfaatkan tabungan yang telah mereka kumpulkan sebelum pensiun.
Dengan konsep wisata yang tepat, segmen ini diyakini mampu meningkatkan durasi Kunjungan Wisatawan.
Waktu tinggal lebih lama berpotensi mendorong peningkatan belanja dan pada akhirnya memperkuat devisa pariwisata Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian ICPI, wisatawan lansia asal Jepang memiliki ketertarikan kuat pada aktivitas kreatif seperti kerajinan tangan dan melukis.
Lanskap alam Indonesia yang beragam dapat menjadi latar ideal bagi pengalaman tersebut, dari pegunungan hingga pesisir laut.
Sebagian lainnya juga memiliki minat bermain golf di kawasan dengan pemandangan laut atau gunung.
Namun, Azril mengingatkan kesiapan akomodasi dan infrastruktur pendukung masih menjadi pekerjaan rumah.
Sementara itu, bagi wisatawan lansia asal Belanda, jalur rempah menjadi narasi yang dinilai sangat kuat.
Jejak sejarah perdagangan rempah Nusantara yang terhubung dengan Eropa dapat diolah menjadi pengalaman wisata yang edukatif sekaligus menyehatkan.
"Mereka itu berwisata, tapi ingin sehat. Bukan hanya senang, gembira, tapi juga dia bisa sehat," katanya.
Ketertarikan Wisatawan Belanda juga kerap bersinggungan dengan pencarian identitas dan sejarah keluarga.
Banyak di antara mereka ingin menelusuri jejak leluhur, mengunjungi kota-kota lama, hingga mencari makam anggota keluarga yang pernah hidup di Indonesia.
Wisata Sejarah ini, menurut Azril, menawarkan kedalaman emosional yang jarang ditemukan di destinasi lain.
"Mereka ingin sekali mengalami nenek moyangnya itu dulu. Bagaimana mengetahui kehidupan nenek moyangnya dulu seperti apa, sangat-sangat sekali dan itu sebenarnya menjadi yang tidak ada di negara lain," katanya.
Seiring pengembangan wisata minat khusus tersebut, ICPI menekankan pentingnya kehadiran layanan kesehatan yang mudah diakses wisatawan lansia.
Pendekatan ini tidak hanya menjamin kenyamanan, tetapi juga rasa aman selama perjalanan.
"Artinya wisata bagi para lanjut usia selain mendapatkan pengalaman, baik selama berkunjung juga mampu menikmati hobinya sekaligus kesehatannya terpelihara oleh dokter gerontologi," ucapnya.
Azril menilai, hingga kini Indonesia masih terlalu sempit memaknai pariwisata kesehatan. Fokus baru sebatas pada wisata medis, pemulihan, dan kebugaran. Padahal, tren global bergerak menuju pariwisata lebih personal sesuai kebutuhan individu.
"Jadi Wisata Kebugaran itu tidak hanya soal spa saja, tetapi juga makanan. Makanan di sini maksudnya yang sehat seperti herbal. Ini salah kaprah justru masuknya dianggap Wisata Kesehatan padahal itu wisata medis," katanya.
Dengan pendekatan tepat, wisata lansia bukan sekadar ceruk pasar, melainkan peluang untuk menghadirkan pariwisata lebih manusiawi. Perjalanan pelan, penuh makna, dan tetap menjaga kualitas hidup para penikmatnya.(Antara)











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!