ID EN

Kisah Loris Karius: 8 Tahun Terbuang Kini Jadi yang Terbaik di Bundesliga 2

Senin, 5 Januari 2026 | 19:00

Penulis: Respaty Gilang

Loris Karius
Loris Karius kiper terbuang akibat blunder fatal di laga Final Liga Champions.
Sumber: Antaranews

Nama Loris Karius tak pernah benar-benar lepas dari satu malam yang mengubah arah kariernya. Final Liga Champions 2018 di Kyiv bukan hanya laga terbesar dalam hidupnya, tetapi juga titik awal runtuhnya kepercayaan dari klub, suporter, hingga dirinya sendiri.

Pada pertandingan itu, Karius melakukan dua kesalahan fatal yang berujung gol Real Madrid. Blunder pertama saat lemparannya diblok Karim Benzema, disusul kegagalan mengantisipasi tendangan jarak jauh Gareth Bale. Liverpool kalah, dan sejak peluit panjang berbunyi, sorotan tak lagi tertuju pada permainan tim, melainkan pada satu nama di bawah mistar.

Tekanan yang datang setelahnya luar biasa. Karius menjadi sasaran kritik global, dari stadion hingga media sosial. Dalam hitungan hari, ia berubah dari kiper finalis Liga Champions menjadi simbol kegagalan. Liverpool, klub dengan ekspektasi juara Eropa, berada di persimpangan, bertahan dengan Karius atau bergerak cepat menutup luka.

Beberapa bulan kemudian, fakta baru terungkap. Pemeriksaan medis menyatakan Karius mengalami gegar otak akibat benturan dengan Sergio Ramos di laga final tersebut. Kondisi itu diyakini memengaruhi konsentrasi dan pengambilan keputusannya. Namun di sepak bola level elite, penjelasan medis jarang cukup untuk mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang.

Jurgen Klopp akhirnya memilih jalan paling realistis bagi klub. Liverpool mendatangkan Alisson Becker dari AS Roma dengan nilai transfer besar. Keputusan itu secara tak langsung menutup pintu Karius di Anfield. Bukan karena ia tak lagi dianggap berbakat, tetapi karena Liverpool tak punya ruang untuk mengambil risiko kedua.

Sejak saat itu, status Karius berubah. Dari kiper utama, ia menjadi pemain yang harus pergi untuk menyelamatkan kariernya sendiri. Peminjaman ke Besiktas diharapkan menjadi titik restart, tetapi tekanan justru ikut terbawa. Setiap kesalahan kecil selalu dibandingkan dengan masa lalunya di Liverpool. Di Turki, performanya tak pernah benar-benar stabil, dan hubungannya dengan klub pun berakhir tanpa kesan kebangkitan.

Upaya berikutnya di Union Berlin pun tak banyak mengubah persepsi. Karius tak pernah benar-benar dipercaya sebagai pilihan utama. Di Inggris, ia sempat bergabung dengan Newcastle United, tetapi kesempatan bermain nyaris tak datang. Waktu berjalan, usia bertambah, dan nama Karius perlahan menghilang dari percakapan sepak bola papan atas.

Ia terbuang bukan semata karena satu malam, tetapi karena sepak bola modern tak memberi banyak ruang untuk trauma yang berkepanjangan. Di klub sebesar Liverpool, posisi penjaga gawang adalah soal kepercayaan mutlak. Sekali retak, sangat sulit diperbaiki.

Justru dari keterbuangan itulah cerita baru dimulai.

Saat Schalke 04 datang menawarkan kesempatan di Bundesliga 2, Karius menerima dengan kesadaran penuh. Ini bukan tentang kembali ke sorotan, melainkan tentang bertahan di profesi yang hampir kehilangannya. Tanpa ekspektasi juara Eropa, tanpa bayang-bayang final Liga Champions, ia kembali menjadi penjaga gawang yang fokus pada hal paling dasar, menghentikan bola.

Di Gelsenkirchen, Karius menemukan kembali ruang aman yang tak ia dapatkan bertahun-tahun. Schalke memberinya menit bermain, kepercayaan, dan yang terpenting, kesunyian dari penghakiman masa lalu. Di sanalah ia perlahan bangkit, membangun reputasi baru lewat konsistensi dan ketenangan.

Kini, saat catatan clean sheet kembali melekat pada namanya, kisah Karius terasa lebih utuh. Ia bukan lagi kiper yang jatuh karena satu kesalahan, melainkan pemain yang bertahan setelah dunia menjatuhkannya.

Sepak bola memang kejam, tetapi kadang memberi kesempatan kedua, bukan di tempat yang sama, bukan dengan sorotan yang sama, melainkan lewat jalan yang lebih sunyi. Dan bagi Loris Karius, Schalke adalah jalan itu.