Liverpool Gagal Menang Lagi, Mo Salah Meledak
Minggu, 7 Desember 2025 | 09:59
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Liverpool kembali gagal mengamankan kemenangan setelah hanya bermain imbang 3-3 melawan Leeds United dalam laga yang dramatis di Elland Road. The Reds, yang sempat unggul 3-2 hingga memasuki injury time, justru kembali kecolongan pada menit ke-90+8 lewat tendangan Ao Tanaka yang membuat seluruh rencana kemenangan buyar di detik terakhir.
Hasil ini melanjutkan tren inkonsistensi yang mulai mencemaskan, terutama ketika tekanan terus mengarah pada mental para pemain dan dinamika ruang ganti yang mulai terlihat retak.
Salah satu isu terbesar setelah pertandingan adalah meledaknya amarah Mohamed Salah. Untuk kali ketiga secara beruntun, ikon Liverpool itu kembali ditempatkan di bangku cadangan, dan kali ini emosinya benar-benar tak terbendung. Dalam wawancara yang tersebar cepat di media internasional, Salah mengungkapkan rasa frustrasi yang selama ini ia pendam.
BACA JUGA
Hasil Liga Inggris: Arsenal Menjauh di Puncak, Man City Imbang dan Chelsea Tumbang
Hasil Liga Inggris: Manchester City dan Arsenal Berebut Posisi Puncak, Liverpool Lanjutkan Tren Positif
Hasil Liga Inggris: Arsenal Tumbang! Villa dan Man City Bikin Puncak Klasemen Makin Panas
“Sekarang saya duduk di bangku cadangan… Sepertinya klub telah melemparkan saya ke bawah bus,” ujarnya.
Ia kemudian menambahkan bahwa ada pihak yang seakan ingin menjadikannya sasaran kesalahan.
“Seseorang ingin aku yang disalahkan.”
Salah bahkan menyebut bahwa pertandingan berikutnya bisa saja menjadi laga terakhirnya bersama Liverpool, sebuah sinyal bahwa ketegangan ini bukan masalah kecil yang bisa hilang dalam semalam.
Beberapa laporan dari The Times dan media Eropa lain menyebut bahwa hubungan antara Salah dan pelatih Arne Slot kini berada di titik terburuknya, bahkan mendekati “tidak ada hubungan sama sekali.”
Slot sendiri memberikan alasan yang dianggap “taktis” dan “manajemen beban” untuk keputusan mencadangkan Salah. Namun pernyataan itu terasa kurang kuat setelah Liverpool kembali kehilangan poin, terutama dari situasi di mana pengalaman dan ketajaman Salah seharusnya menjadi aset penting.
Meski begitu, Slot tetap menegaskan bahwa pilihannya berdasarkan kebutuhan laga, bukan konflik personal.
Yang makin memperburuk situasi adalah kondisi ruang ganti usai hasil imbang yang pahit tersebut. Walaupun belum ada laporan resmi tentang adu mulut atau insiden besar, atmosfer yang ditangkap media Inggris menggambarkan suasana yang tegang, terutama setelah komentar Salah mengguncang fondasi ruang ganti.
Para pemain tampak frustrasi bukan hanya karena hasil, tetapi juga ketidakpastian taktik, perubahan line-up, dan pesan-pesan internal yang menurut beberapa analis “tak lagi solid.”
Menurut laporan match report The Guardian, banyak pemain Liverpool terlihat terpukul setelah laga, terlebih karena pola kebobolan di menit akhir bukan terjadi sekali. Kesalahan-kesalahan kecil, miskomunikasi di lini belakang, dan hilangnya fokus menjadi indikator jelas bahwa masalah tim ini bukan hanya teknis tetapi mental.
Saat pemain saling kehilangan kepercayaan, dan ikon utama tim merasa dikhianati, performa di lapangan pun ikut runtuh.
Situasi Salah kini memperbesar tekanan itu. Di satu sisi, ia adalah pemimpin paling berpengaruh di ruang ganti, pemain dengan gol, assist, dan pengalaman yang selama bertahun-tahun menjadi wajah Liverpool modern. \
Di sisi lain, rasa kecewa dan ucapannya yang keras membuat atmosfer semakin sulit diprediksi. Media Eropa bahkan menggambarkan kondisi ini sebagai “Liverpool-Knall” — sebuah ledakan internal yang berpotensi menjadi awal perpisahan besar.
Rentetan hasil buruk makin menambah beban mental. Gagal menang, kebobolan di menit akhir, pemain kunci frustrasi, dan ruang ganti yang mulai terbelah adalah kombinasi yang berbahaya.
Jika tidak segera ditangani, Liverpool berpotensi memasuki fase krisis yang sulit diperbaiki hanya dengan rotasi pemain atau perubahan taktik. Saat mental dan hubungan internal sudah retak, setiap pertandingan terasa semakin berat.
Ke depan, Liverpool butuh lebih dari sekadar mencetak gol cepat atau menambah pemain baru. Mereka membutuhkan stabilitas emosional, kejelasan komunikasi, dan situasi ruang ganti yang kembali harmonis.
Tanpa itu, performa di lapangan akan terus rapuh — dan masa depan Salah, yang kini berada di ujung tanduk, bisa menjadi detonator terbesar dari perubahan besar di Anfield.










