Legenda Kiper Indonesia Ronny Pasla Meninggal Dunia di Usia 79 Tahun
Senin, 24 November 2025 | 11:15
Penulis: Rojes Saragih

Sumber: Youtube/TV Favorit
Jakarta. Dunia sepak bola Indonesia berduka. Mantan penjaga gawang tim nasional Indonesia, Ronny Pasla, telah menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada usia 79 tahun, Senin (24/11/2025) dini hari WIB.
Ronny Pasla (terkadang dieja Ronny Paslah), lahir 15 April 1947, adalah kiper utama Timnas Indonesia di era 1970-an. Berkarier dari tahun 1960-an hingga awal 1980-an, ia dikenang sebagai salah satu penjaga gawang terhebat yang pernah dimiliki Indonesia.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, almarhum akan disemayamkan di Gereja Evangelis, Jakarta Pusat. Prosesi pemakaman direncanakan dilaksanakan pada hari Selasa (25/11) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, ungkap sumber Antara.
Prestasi Gemilang di Timnas
Ronny Pasla adalah tulang punggung utama di bawah mistar gawang Garuda pada era akhir 1960-an hingga 1970-an. Kiprahnya bersama timnas dihiasi segudang prestasi membanggakan. Ia berperan penting dalam membawa Indonesia menjuarai beberapa turnamen bergengsi, termasuk Aga Khan Gold Cup pada 1967, Turnamen Merdeka 1969, dan Sukan Cup Singapura 1972.
Meredam Eksekusi Penalti Sang Legenda, Pele
Salah satu momen paling legendaris dalam karier internasional Ronny terjadi pada pertandingan persahabatan melawan klub raksasa Brasil, Santos, pada 1972. Meski skor akhir menunjukkan kekalahan Indonesia 1-2, aksi heroik Ronny tetap menjadi pusat perhatian. Publik sepak bola dalam dan luar negeri mengingatnya sebagai kiper yang berhasil meredam eksekusi penalti dari sang legenda, Pelé, serta melakukan sejumlah penyelamatan brilian sepanjang laga.
Kiprah di Klub dan Awal Karir
Pada level klub, Ronny Pasla dikenal sebagai kiper yang berpengalaman dengan membela beberapa tim ternama. Jejak kariernya tercatat di Dinamo Medan, PSMS Medan, Persija Jakarta, dan Indonesia Muda. Kontribusinya bagi Persija khususnya sangat signifikan; ia turut mengantar klub ibukota tersebut menjuarai kompetisi perserikatan pada tahun 1975.
Yang mungkin kurang diketahui publik, sebelum mendedikasikan dirinya di sepak bola, Ronny memulai karir atletiknya di cabang tenis. Ia bahkan terpilih untuk mewakili Provinsi Sumatera Utara dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) VII tahun 1965. Sayangnya, peristiwa G30S menyebabkan ajang olahraga terbesar nasional itu akhirnya dibatalkan.
Setelah pensiun dari sepak bola di usia 40 tahun, Ronny kembali menekuni dunia tenis. Ia mengabdikan ilmunya dengan mendirikan sebuah sekolah tenis yang bernama Velodrom Tennis School di Jakarta.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!