ID EN

Dua Puluh Tiga Musim, LeBron James Buktikan Usia Hanya Angka

Kamis, 2 Oktober 2025 | 08:00

Penulis: Arif S

Megabintang Los Angeles Lakers LeBron James
Megabintang Los Angeles Lakers, LeBron James menolak tua.
Sumber: Antara

Di usianya yang akan menyentuh 41 tahun pada Desember mendatang, megabintang Los Angeles Lakers, LeBron James, masih menolak tunduk pada waktu. Alih-alih memikirkan pensiun, ia justru semakin menikmati kesempatan untuk terus bermain di level tertinggi NBA.

"Saya senang punya kesempatan bermain lagi di musim ini, bagaimana pun jalannya, saya sangat berinvestasi, karena saya tidak tahu kapan akhirnya tiba," kata James, penuh keyakinan.

Pernyataan itu terasa istimewa, sebab musim ini akan mencatatkan namanya sebagai pemain pertama dalam sejarah NBA yang tampil hingga 23 musim. Rekor yang tak hanya menunjukkan daya tahan fisik, tapi juga dedikasi luar biasa seorang atlet yang konsisten di puncak persaingan.

Momen bersejarah itu akan dimulai ketika Lakers menghadapi Golden State Warriors pada laga pembuka musim reguler, 21 Oktober mendatang. Sebuah awal yang sarat simbol, mengingat duel Lakers-Warriors kerap dianggap sebagai salah satu tontonan paling ikonik di NBA modern.

LeBron kembali hadir dalam latihan pramusim Lakers pada akhir September. Sorot mata semangatnya terlihat jelas, seolah musim panjang yang akan datang hanyalah babak baru dalam perjalanan karier. Di musim panas, ia mengisi hari-hari dengan latihan intensif sekaligus menikmati hobi barunya: golf.

Namun musim ini tak hanya soal dirinya. LeBron akan bermain berdampingan dengan Luka Doncic, bintang muda yang baru bergabung lewat pertukaran dengan Anthony Davis. Lakers pun memperkuat barisan dengan kehadiran Deandre Ayton, Marcus Smart, dan Jake LaRavia. Kombinasi pengalaman dan darah baru ini menyalakan lagi optimisme di Los Angeles.

Meski musim lalu Lakers hanya finis ketiga di Wilayah Barat dengan 50 kemenangan, langkah mereka terhenti di putaran pertama playoff. Namun LeBron tetap menjadi jangkar tim dengan catatan rata-rata 24,4 poin, 8,2 assist, dan 7,8 rebound per laga dalam 70 pertandingan. Statistik itu membuktikan bahwa usia belum mampu mengikis kualitasnya.

Lebih dari sekadar angka, LeBron juga kini menikmati fase unik dalam kariernya: bermain satu tim dengan putra sulungnya, Bronny James. Bronny bergabung sebagai guard cadangan Lakers, sementara adiknya, Bryce, baru memulai karier basket perguruan tinggi di University of Arizona. Di luar gelar juara, kebersamaan ini mungkin jadi “trofi” emosional paling berharga bagi LeBron.

"Saya merasa sebaik apa yang pikiran saya katakan, jadi bagaimana mungkin saya tidak merasa muda? Saya merasa luar biasa," ujar James. Kalimat itu terdengar seperti mantra pribadi, yang menjaga semangatnya tetap menyala meski kalender tak pernah berkompromi.

Delapan musim bersama Lakers menjadikan periode ini masa terpanjang LeBron bertahan dalam satu tim. Sebelumnya, ia tujuh musim pertama membela Cleveland Cavaliers, kemudian meraih dua gelar bersama Miami Heat, kembali lagi ke Cavaliers selama empat musim dengan satu gelar bersejarah, sebelum hijrah ke Los Angeles pada 2018.

Kini, LeBron berdiri di persimpangan unik: seorang legenda yang masih produktif, seorang ayah yang bermain bersama anaknya, dan seorang kompetitor yang masih lapar akan gelar. Dengan kondisi fisik yang prima dan motivasi tak pernah padam, LeBron James membuktikan bahwa “usia” hanyalah angka—sementara semangat adalah segalanya.