Larangan Suporter Klub Sepakbola Israel di Birmingham: Antara Keamanan dan Kontroversi
Kamis, 23 Oktober 2025 | 06:00
Penulis: Arif S

Sumber: Pixabay
Birmingham, kota yang biasanya riuh semangat sepak bola, kali ini menghadapi sorotan. Bukan karena pertandingan besar, melainkan keputusan besar. Kepolisian West Midlands (WMP) menyetujui larangan bagi suporter klub Israel, Maccabi Tel Aviv, untuk menghadiri laga Liga Europa melawan Aston Villa di Stadion Villa Park, November 2025.
Bagi sebagian orang, keputusan itu dianggap langkah kehati-hatian. Namun bagi yang lain, justru menimbulkan perdebatan panjang tentang batas antara keamanan dan diskriminasi.
“Birmingham tidak mengecewakan siapa pun, begitu juga Kepolisian West Midlands. Keputusan yang sudah diambil harus dihormati. Keputusan itu dibuat dengan pertimbangan matang dan pemahaman yang baik tentang ancaman serta risiko yang ada. Tugas kami sebagai polisi adalah memastikan semua orang tetap aman,” ujar Kepala Kepolisian WMP, Craig Guildford, dikutip dari BBC, Rabu.
BACA JUGA
Laga Aston Villa vs Klub Israel Maccabi Tel Aviv Digelar Tanpa Suporter Tamu karena Alasan Keamanan
Sejumlah media Inggris pada Kamis 16 Oktober 2025 melaporkan, WMP telah meminta agar pendukung klub Israel itu dilarang membeli tiket pertandingan di Villa Park.
Tidak butuh waktu lama bagi Aston Villa untuk mengonfirmasi keputusan tersebut. Klub menyebut adanya sejumlah faktor fisik dan keselamatan yang menjadi alasan utama di balik kebijakan itu.
Keputusan tersebut tak berhenti di meja polisi atau klub tetapi merembet ke ranah politik. Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menjadi salah satu dari banyak tokoh yang mengkritik larangan itu. Komisaris Polisi dan Kejahatan (PCC) West Midlands, Simon Foster, bahkan memerintahkan dilakukan peninjauan segera.
Menurut laporan, WMP telah menyarankan Safety Advisory Group (SAG) Birmingham agar tidak memberikan jatah tiket tandang di Villa Park. Polisi menegaskan, keputusan itu bukan tanpa dasar. Mereka menyebutnya sebagai langkah berdasarkan intelijen terkini dan pengalaman masa lalu, terutama insiden kelam antara Ajax dan Maccabi di Amsterdam, November 2024.
Kala itu, pertandingan yang seharusnya menjadi pesta sepak bola berubah menjadi kericuhan. Polisi Belanda menangkap lebih dari 60 orang setelah suporter Maccabi diserang usai laga.
Sehari sebelumnya, pendukung Maccabi dilaporkan menyerang sebuah taksi dan membakar bendera Palestina. Bayang-bayang peristiwa itu masih kuat, hingga kini membayangi laga di Inggris.
Maccabi akhirnya memberikan tanggapan resmi pada Senin 20 Oktober. Klub menyatakan akan menolak jatah tiket untuk pertandingan tersebut.
Dalam pernyataannya, mereka menilai atmosfer yang muncul “terlalu berbahaya” dan membuat keselamatan pendukung menjadi sangat diragukan. Pemerintah Inggris merespons dengan rasa prihatin mendalam.
“Pemerintah Inggris menyatakan sangat berduka atas keputusan Maccabi itu,” tulis pernyataan resmi.
Kementerian Dalam Negeri Inggris turun tangan. Mereka disebut tengah mencari cara untuk memastikan WMP mendapatkan dukungan yang dibutuhkan agar suporter Maccabi dapat hadir dengan aman.
Sementara itu, Menteri Negara Perumahan, Komunitas, dan Pemerintahan Daerah, Steve Reed, telah berbicara dengan Dewan Kota Birmingham untuk menindaklanjuti keprihatinan yang disampaikan Starmer.
Sorotan terhadap WMP makin tajam ketika Komite Kebudayaan, Media, dan Olahraga Parlemen Inggris merilis pernyataan pada Jumat 17 Oktober.
Mereka meminta kepolisian menjelaskan alasan di balik keyakinan pertandingan itu tak bisa diamankan tanpa melarang suporter Maccabi.
Di tengah semua kritik, Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris meminta publik untuk menahan diri. Mereka menegaskan proses pengambilan keputusan tersebut “harus dihormati” dan menambahkan pemerintah telah mendapat pemberitahuan sepekan sebelumnya tentang kemungkinan pembatasan terhadap suporter tim tamu.
Kini, Birmingham bersiap menjadi tuan rumah laga yang dipenuhi dinamika. Sementara di luar stadion, debat tentang keamanan, kebebasan, dan politik terus bergulir. Ini mengingatkan dunia bahwa sepak bola, sesederhana apa pun tujuannya, tak pernah sepenuhnya lepas dari realitas sosial dan politik yang lebih besar.










