ID EN

Laju Tiga Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Terhenti di Babak 16 Besar

Rabu, 8 Juli 2026 | 13:00

Penulis: Arif S

Maskot Piala Dunia 2026
Maskot Piala Dunia 2026 Maple (Rusa Kanada), Zayu (Jaguar Meksiko) dan Clutch (Elang Amerika Serikat).
Sumber: Antara/FIFA.com

Piala Dunia 2026 mungkin tidak berakhir sesuai harapan bagi tiga negara penyelenggara. Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Langkah ketiganya harus terhenti di babak 16 besar. Namun, kegagalan itu tidak menghapus dampak besar bagi perkembangan sepak bola Amerika Utara.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia digelar di tiga negara sekaligus. Meski tak ada satu pun tuan rumah mampu mencapai perempat final, turnamen ini menjadi momentum peningkatan kualitas sepak bola kawasan CONCACAF.

Sepanjang turnamen, ketiga negara tidak hanya mencatat hasil-hasil bersejarah, tetapi juga memperkenalkan generasi baru pemain yang diproyeksikan menjadi tulang punggung tim nasional masing-masing menuju Piala Dunia 2030.

Kanada Dihentikan Maroko

Kanada menjadi salah satu tim yang mencuri perhatian. Meski langkah mereka dihentikan Maroko setelah kalah 0-3 di babak 16 besar, perjalanan The Canucks dipenuhi pencapaian bersejarah.

Mereka meraih poin pertama di Piala Dunia setelah bermain imbang melawan Bosnia-Herzegovina, kemudian membukukan kemenangan perdana lewat pesta enam gol ke gawang Qatar yang dipimpin hattrick Jonathan David. 

Kanada juga akhirnya merasakan kemenangan pertama di fase gugur setelah menyingkirkan Afrika Selatan.

Di balik pencapaian itu bek muda Luc de Fougerolles menjadi salah satu penemuan terbesar. Pemain Fulham berusia 20 tahun itu tampil konsisten sepanjang turnamen dan dinilai memiliki potensi menjadi pemimpin lini belakang Kanada di masa depan.

Meksiko Kalah Dramatis dari Inggris

Meksiko gagal melangkah lebih jauh setelah kalah dramatis 2-3 dari Inggris di Stadion Azteca. Meski terhenti di babak 16 besar, El Tri memperlihatkan hasil positif dari proses regenerasi dalam beberapa tahun terakhir.

Meksiko mencatat empat kemenangan dalam satu edisi Piala Dunia untuk pertama kalinya. Mereka juga mengakhiri penantian selama 40 tahun dengan kembali meraih kemenangan di fase gugur usai mengalahkan Ekuador di babak 32 besar.

Rodrigo Mora menjadi sorotan utama. Gelandang berusia 17 tahun itu bermain penuh percaya diri menghadapi lawan kelas dunia. Mora menjadi simbol lahirnya generasi baru bersama Obed Vargas, Brian Gutierrez, Mateo Chavez, dan Armando González.

Amerika Serikat Dihancurkan Belgia

Nasib serupa dialami Amerika Serikat yang harus mengakui keunggulan Belgia dengan skor telak 1-4. Meski gagal melangkah lebih jauh di depan publik sendiri, The Stars and Stripes tetap meninggalkan sejumlah catatan positif.

Amerika Serikat mencetak sejarah dengan membukukan empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia saat mengalahkan Paraguay, meraih dua kemenangan di fase grup untuk pertama kalinya, serta mengakhiri penantian sejak 2002 dengan kemenangan di fase gugur setelah menundukkan Bosnia-Herzegovina.

Produktivitas mereka juga layak mendapat apresiasi. Total 11 gol menjadikan Amerika Serikat sebagai tim CONCACAF pertama yang mampu mencetak lebih dari 10 gol dalam satu edisi Piala Dunia.

Dari sisi individu, Alex Freeman muncul sebagai salah satu pemain muda paling menjanjikan. Amerika Serikat juga mulai menyiapkan regenerasi melalui pemain muda seperti Cavan Sullivan dan Benjamin Cremaschi.

Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat mungkin gagal memenuhi target di Piala Dunia 2026. Akan tetapi, kemunculan generasi baru serta sejumlah pencapaian bersejarah menjadi modal berharga bagi masa depan sepak bola Amerika Utara menuju Piala Dunia 2030.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!