ID EN

Juara The JGS Indonesia 2026, Milanka Azwar Ungkap Kunci Sukses Menjadi Pegolf Junior

Rabu, 8 Juli 2026 | 10:43

Penulis: Rojes Saragih

Pegolf junior Indonesia Milanka Azwar (11) terus menunjukkan perkembangan impresif. Pada The JGS Indonesia Elite Junior International Championship 2026 di Royale Jakarta Golf Club, Jakarta, 28–30 April 2026, Milanka tampil sebagai juara Class D Girls setelah membukukan total skor 219 atau 3-over par dalam tiga ronde, termasuk mencatat 71 pukulan (1-under par) pada putaran terakhir.

Turnamen yang diikuti 55 pegolf muda dari berbagai negara itu menjadi seri pembuka kompetisi utama JGS Indonesia musim 2026.

Di balik prestasi itu, Milanka bersama sang adik Shaneen Kyree Azwar (8) berbagi cerita dalam podcast ITSMe yang dipandu Raisha S. Ramadhani. Keduanya hadir bersama ayah mereka, Henri Azwar, yang mengungkap perjalanan membangun fondasi karier golf kedua putrinya sejak usia dini.

Henri menuturkan, Milanka mulai mengenal golf sekitar 2019–2020 ketika ia diajak ke driving range untuk mengisi waktu luang. Saat pandemi COVID-19 membatasi aktivitas masyarakat, golf menjadi salah satu olahraga luar ruang yang tetap bisa dilakukan.

Sejak itulah ketertarikan Milanka tumbuh hingga akhirnya serius mengikuti latihan dan turnamen. Sementara Kyree mulai bermain sekitar setahun terakhir setelah terinspirasi melihat sang kakak berlatih setiap hari.

Meski aktif mengikuti berbagai kejuaraan, pendidikan tetap menjadi prioritas keluarga. Milanka dan Kyree tetap bersekolah seperti biasa, sementara jadwal latihan disesuaikan dengan kegiatan akademik.

Pada hari tertentu mereka mendapat izin pulang lebih awal agar tetap bisa menjalani latihan tanpa mengorbankan proses belajar. Milanka bahkan memiliki target melanjutkan pendidikan ke Stanford University, sekaligus mengejar cita-cita menjadi pegolf profesional.

Henri menilai dukungan terbesar orang tua bukan semata soal biaya, melainkan waktu. Ia menghabiskan hingga enam jam sehari mendampingi latihan kedua putrinya, belum termasuk ketika mengikuti turnamen. Namun, ia tidak ingin anak-anak bergantung sepenuhnya kepada pelatih.

Milanka dan Kyree didorong belajar mengevaluasi kesalahan sendiri sebelum berdiskusi mencari solusi, sehingga terbentuk kemandirian dan kemampuan mengambil keputusan di lapangan.

Pendekatan Henri juga berubah seiring pengalaman. Jika dahulu ia mudah terbawa emosi ketika anak bermain kurang baik, kini ia lebih menekankan proses daripada hasil.

Menurutnya, fase junior merupakan masa membangun teknik, mental, disiplin, dan sportivitas. Karena itu, anak-anak harus tetap menikmati permainan atau having fun, sebab tekanan berlebihan justru dapat menghambat perkembangan mereka.

Persaingan sehat juga tumbuh di antara Milanka dan Kyree. Keduanya rutin berlatih bersama, saling berbagi masukan mengenai teknik permainan, sekaligus memotivasi satu sama lain untuk terus berkembang.

Bagi Henri, keberhasilan atlet muda tidak hanya diukur dari trofi yang diraih, tetapi juga dari karakter, semangat belajar, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara pendidikan dan olahraga.