Penguatan Promosi Wisata Pulau Penyengat Berbasis Budaya Melayu
Sabtu, 9 Mei 2026 | 13:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Ogen
Pulau Penyengat di Kepulauan Riau merupakan salah satu pusat Warisan Budaya Melayu di Indonesia. Namun di balik kekayaan sejarah tersebut, potensi ekonomi wisata Pulau Penyengat dinilai belum berkembang maksimal.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai penguatan promosi dan pemasaran wisata menjadi langkah penting agar kawasan itu mampu berkembang sebagai pusat ekonomi oranye berbasis budaya Melayu.
Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas, Uke Mohammad Hussein, mengatakan Pulau Penyengat berpeluang besar menjadi contoh pengembangan Ekonomi Kreatif berbasis budaya di Indonesia.
BACA JUGA
Kampung Kayutangan, Magnet Wisata Kota Malang Bantu Capai Target 3,4 Juta Kunjungan
Libur Lebaran, Candi Borobudur Targetkan 83 Ribu Wisatawan dalam Sembilan Hari
Tinjau Benteng Marlborough, Fadli Zon Dorong Penguatan Ekosistem Pariwisata Sejarah Bengkulu
"Ekonomi oranye di Pulau Penyengat, cukup bagus jika dikelola dengan baik. Kepri bisa menjadi contoh,” ujar Uke saat berkunjung ke Tanjungpinang, Jumat.
Uke menjelaskan ekonomi oranye merupakan sektor ekonomi berbasis kreativitas, budaya, seni, dan inovasi yang mampu mengubah kekayaan intelektual menjadi lapangan kerja serta keuntungan ekonomi.
Dalam konteks Pulau Penyengat, warisan budaya Melayu memiliki fondasi kuat untuk dikembangkan lebih jauh melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Meski berbagai penataan kawasan budaya telah dilakukan pemerintah pusat dan daerah dalam beberapa tahun terakhir, Uke menilai dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi wisata masih belum optimal.
"Alhamdulillah banyak kemajuan. Tinggal dicari ruang-ruang yang masih bisa dikembangkan supaya dampaknya lebih besar lagi," katanya.
Menurut Uke, Pulau Penyengat sebenarnya telah memiliki modal penting berupa storytelling budaya dan paket wisata menarik bagi wisatawan.
Narasi sejarah Melayu yang melekat pada kawasan itu dinilai sudah cukup kuat untuk membangun pengalaman wisata berbasis budaya.
"Sudah ada storytelling dan paket-paket wisata, tinggal promosinya harus diperluas lagi," ucapnya.
Pulau Penyengat selama ini dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan budaya Melayu dan Islam di kawasan pesisir Sumatra.
Selain Promosi Wisata, Bappenas juga mendorong penguatan Destination Management Organization (DMO) yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas masyarakat.
Kolaborasi tersebut dianggap penting untuk menciptakan pengelolaan destinasi Wisata Berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat lokal.
Bappenas juga berencana melibatkan Direktorat Pembangunan Indonesia Barat dan Direktorat Pemajuan Kebudayaan dalam pengembangan kawasan berbasis budaya di Pulau Penyengat.
Sementara itu, Kepala Bappelitbang Kota Tanjungpinang, Riono, mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat sektor budaya dan ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan ekonomi kota.
Menurut Riono, Tanjungpinang tidak hanya menawarkan wisata budaya Melayu dan religi Islam, tetapi juga memiliki keragaman destinasi sejarah lainnya.
"Kita bukan hanya punya Penyengat dan budaya Melayu identik Islam, tetapi juga punya kelenteng berusia lebih dari 300 tahun dan Patung Seribu," ujarnya.
Selain sektor pariwisata, penguatan ekonomi kreatif lokal juga didukung keberadaan UMKM yang terus berkembang.
Data Pemerintah Kota Tanjungpinang mencatat jumlah usaha mikro pada 2025 mencapai 15.003 unit usaha yang didominasi sektor kuliner.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!