Di pinggir lapangan latihan Persita Tangerang, Ilham Jaya Kesuma kini menjalankan peran yang berbeda. Ia tidak lagi berdiri sebagai striker yang menunggu umpan untuk mencetak gol.
Kini, ia mengamati pergerakan pemain muda, memberikan instruksi, mengoreksi kesalahan dan menuangkan pengalaman panjangnya sebagai pesepak bola kepada generasi berikutnya.
Untuk musim EPA 2025/2026, Ilham tercatat sebagai Pelatih Kepala Persita U20. Ia memimpin tim muda Persita yang berkompetisi di EPA, sebuah kompetisi pembinaan antarklub, sekaligus menjadi bagian dari proses pengembangan pemain menuju level sepak bola senior.
BACA JUGA
Dari Perantau hingga Raja Gol: Transformasi Ilham Jaya Kesuma Menaklukkan Asia Tenggara
Ilham Jaya Kesuma: Hikayat Sang Predator Kotak Penalti yang Mengguncang Asia
Liga Universitas Indonesia Dipresentasikan di World Football Day 2026 PBB
Bagi Ilham, pekerjaan itu bukan sekadar menyiapkan tim menghadapi pertandingan.
Ia sedang membantu pemain-pemain muda memahami bagaimana menjadi pesepak bola profesional—mulai dari disiplin, keberanian mengambil keputusan, membaca permainan, menghadapi tekanan hingga memiliki mental untuk bersaing.
Pengalaman itu membuat pekerjaannya terasa sangat personal. Sebab, perjalanan yang sedang dilalui pemain-pemain muda tersebut memiliki kemiripan dengan perjalanan hidupnya sendiri.
Lahir di Palembang pada 19 September 1978, Ilham mengenal sepak bola dari lingkungan kampung.
Ia bermain dalam pertandingan-pertandingan lokal, berkembang ke level yang lebih tinggi hingga akhirnya mendapatkan kesempatan memperkuat PS Palembang pada masa juniornya. Data kariernya mencatat PS Palembang sebagai klub junior Ilham pada 1995-1996.
Tahun 1996 menjadi titik penting. Ilham kemudian bergabung dengan Persita Tangerang. Dari sinilah kariernya berkembang pesat. Ia menjelma menjadi salah satu penyerang lokal paling tajam pada era Liga Indonesia dan menjadi bagian penting dari perjalanan Persita di kompetisi nasional.
Ilham dua kali menjadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia. Pada musim 2001/2002, ia mencetak 26 gol dan meraih penghargaan pemain terbaik. Dua tahun kemudian, ia kembali menjadi top scorer dengan 22 gol. Pada 2002, Persita juga melaju hingga final Liga Indonesia.
Ketajaman itu kemudian membawanya ke Timnas Indonesia. Pada Piala Tiger 2004, Ilham mencetak tujuh gol dan menjadi pencetak gol terbanyak turnamen. Indonesia akhirnya menjadi runner-up setelah kalah dari Singapura di final. Secara keseluruhan, Ilham mencatat 18 penampilan dan 13 gol bersama Timnas Indonesia.
Petualangannya kemudian berlanjut ke luar negeri. Pada 2006-2007, Ilham memperkuat MPPJ Selangor di Malaysia. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan atmosfer kompetisi yang berbeda dan menambah perspektifnya tentang tuntutan profesional seorang pemain.
Setelah itu, ia kembali memperkuat Persita dan sempat bermain untuk Persisam Putra Samarinda, Mitra Kukar dan Sriwijaya sebelum mengakhiri karier bermainnya pada 2014.
Kini, seluruh pengalaman itu menjadi bekal ketika Ilham berdiri di depan para pemain muda.
Ia pernah merasakan bagaimana seorang pemain berkembang dari lingkungan sederhana, mendapatkan kesempatan, bersaing untuk mendapatkan tempat, menjadi striker Persita, memperkuat Timnas Indonesia hingga merasakan kompetisi di luar negeri.
Semua pengalaman itu kini ia coba teruskan kepada pemain-pemain yang sedang mengejar mimpi mereka.
Dulu Persita menjadi tempat Ilham tumbuh. Kini, Ilham berada di sisi lain lapangan untuk ikut menumbuhkan generasi berikutnya.
Di situlah makna perjalanan Ilham menjadi lebih dari sekadar kisah seorang mantan striker. Kariernya kini memasuki babak baru: bukan lagi mengejar gol, melainkan membantu mencetak pemain yang suatu hari diharapkan mampu menembus tim senior Persita.
Kisah tersebut menjadi bagian dari Program VAR (Versi Atlet Raisha) yang mendatangi mantan pemain sepak bola Indonesia, Ilham Jaya Kesuma, untuk menggali kisah hidup, aktivitasnya saat ini, perjalanan karier serta pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman panjangnya di dunia sepak bola.
Melalui wawancara mendalam bersama Raisha, Ilham bercerita tentang perjalanan dari sepak bola kampung hingga menjadi striker yang disegani, pengalaman membela Timnas Indonesia dan bermain di Malaysia, hingga kehidupannya sekarang sebagai pelatih yang membina pemain muda.
Dari lapangan kampung di Palembang hingga panggung sepak bola Asia Tenggara, perjalanan Ilham menunjukkan bahwa karier seorang pesepak bola tidak berhenti ketika ia menggantung sepatu.
Ia hanya berganti peran: dari pencetak gol menjadi pencetak pemain, dari pemain yang dahulu dibesarkan Persita menjadi orang yang kini ikut menanam masa depan Persita.










