Tyronne del Pino ke Persita: Taruhan Pengalaman Sang MVP untuk Mengangkat Level Tim
Senin, 10 Agustus 2026 | 16:40
Penulis: Rojes Saragih

Sumber: Antara/Raisan Al Farisi
Pada usia 35 tahun, Tyronne del Pino seharusnya sudah berada di fase ketika banyak klub mulai melihat usia sebagai risiko.
Persita Tangerang justru melihatnya dari sudut yang berbeda.
Klub berjuluk Pendekar Cisadane itu resmi mendatangkan gelandang serang asal Spanyol itu dengan status bebas transfer untuk menghadapi BRI Super League 2026/2027, dikutip dari laman resmi klub, Senin, 10/8/2026.
BACA JUGA
Jelang Duel Panas Persita vs Persija, Carlos Pena Fokus Pemulihan dan Analisis Lawan
Shayne Pattynama Dilepas Buriram United, Rumor Merapat ke Persija Menguat
Tak Banyak Belanja Pemain, Bojan Hodak Ungkap Strategi Persib di Paruh Kedua Super League
Keputusan itu menarik bukan semata karena nama Tyronne.
Lebih dari itu, Persita sedang mengejar pemain yang sudah membuktikan dirinya di sepak bola Indonesia—bahkan pernah menjadi pemain terbaik kompetisi.
Tyronne datang setelah satu musim bersama Malut United. Dalam 32 pertandingan Super League 2025/2026, ia mencetak 10 gol dan memberikan 12 assist. Statistik resmi ILeague juga menunjukkan kontribusi tersebut membuat Tyronne terlibat langsung dalam 22 gol Malut United.
Angka itu menjelaskan mengapa Persita bersedia mengambil risiko terhadap seorang pemain yang sudah memasuki usia 35 tahun.
Pengalaman bukan satu-satunya yang dibeli Persita. Mereka membeli produktivitas.
Pemain yang Sudah Teruji
Tyronne bukan pemain asing yang datang ke Indonesia untuk pertama kalinya.
Ia sudah merasakan atmosfer kompetisi lokal bersama Persib Bandung dan Malut United. Bahkan periode terbaik dalam kariernya justru terjadi di Indonesia.
Musim 2024/2025 bersama Persib menjadi titik puncaknya.
Tyronne mencetak 18 gol dan enam assist dalam 31 pertandingan Liga Indonesia. Ia membantu Persib mempertahankan gelar juara sekaligus dinobatkan sebagai Pemain Terbaik BRI Liga 1 2024/2025 oleh PT Liga Indonesia Baru.
Dalam laporan akhir musimnya, ILeague menggambarkan Tyronne sebagai salah satu roh permainan Persib. Ia bukan hanya produktif di depan gawang, tetapi juga berkontribusi dalam aspek permainan lainnya, termasuk 24 intersepsi dan 19 tekel.
Ia juga masuk Best XI Liga 1 2024/2025 sebagai gelandang serang.
Dengan kata lain, Persita tidak sedang membeli nostalgia terhadap pemain yang pernah bagus.
Mereka mendapatkan pemain yang musim lalu masih menghasilkan.
Mengapa Persita Membutuhkannya?
Di sinilah transfer ini menjadi lebih menarik.
Persita tidak membutuhkan Tyronne untuk sekadar menjadi nama besar di ruang ganti.
Mereka membutuhkan pemain yang mampu membuat serangan lebih hidup.
Tyronne memiliki profil gelandang serang yang bisa bermain di ruang antara lini tengah dan pertahanan lawan. Ia dapat menciptakan peluang, masuk ke area berbahaya, sekaligus mengambil keputusan akhir ketika ruang terbuka.
Karakter seperti ini penting terutama ketika sebuah tim menghadapi lawan yang bertahan lebih dalam.
Persita tentu tidak bisa mengandalkan satu pemain untuk menyelesaikan seluruh persoalan serangan.
Namun, kehadiran Tyronne memberikan Pelatih Persita, Carlos Pena satu senjata yang sebelumnya tidak selalu tersedia: pemain berpengalaman yang sudah memahami bagaimana pertandingan Liga Indonesia berjalan.
Dan itu bukan keuntungan kecil.
Tyronne sudah tahu bagaimana lawan bermain.
Ia tahu intensitas pertandingan.
Ia tahu karakter wasit, perjalanan tandang, atmosfer stadion, dan tekanan pertandingan di Indonesia.
Adaptasi yang biasanya menjadi persoalan pemain asing baru hampir tidak lagi menjadi masalah baginya.
Carlos Pena Mendapatkan Pemain yang Bisa Membaca Pertandingan
Bagi Carlos Pena, nilai Tyronne mungkin justru lebih besar daripada sekadar angka gol dan assist.
Pelatih asal Spanyol itu mendapatkan pemain yang sudah matang secara taktikal.
Tyronne tidak lagi berada pada tahap karier ketika ia harus membuktikan bahwa dirinya bisa bermain di level profesional.
Ia sudah melewati fase tersebut.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana Pena menempatkan Tyronne dalam struktur Persita.
Apakah ia menjadi gelandang serang utama?
Apakah ia diberi kebebasan bergerak di belakang striker?
Atau justru digunakan sebagai pemain yang masuk ketika pertandingan membutuhkan kreativitas dan ketenangan?
Jawabannya akan menentukan apakah transfer ini menjadi tambahan biasa atau benar-benar mengubah kualitas Persita.
Usia 35 Tahun Adalah Pertanyaan, Bukan Vonis
Tetap ada satu persoalan yang tidak bisa diabaikan: usia.
Tyronne lahir pada 27 Januari 1991. Ia akan menjalani musim 2026/2027 pada usia 35 tahun.
Pada usia seperti itu, Persita tidak seharusnya berharap Tyronne bermain dengan intensitas maksimal setiap menit dalam satu musim panjang.
Manajemen menit bermain akan menjadi penting.
Begitu pula peran pemain-pemain di sekelilingnya.
Jika Carlos Pena mampu menempatkan Tyronne pada situasi di mana kemampuan membaca ruang, kreativitas, dan pengalaman lebih banyak digunakan daripada tuntutan berlari tanpa henti, Persita bisa mendapatkan keuntungan besar.
Justru di sinilah pengalaman seorang pemain 35 tahun menjadi berharga.
Pemain muda biasanya memenangkan duel dengan tenaga.
Pemain berpengalaman sering memenangkan momen dengan keputusan.
Tyronne berada pada fase karier ketika keputusan itu mungkin menjadi aset terbesarnya.
Dari Persib, Malut United, kini Persita
Perjalanan Tyronne di Indonesia juga menunjukkan sesuatu yang menarik.
Di Persib, ia mencapai puncak karier domestiknya dengan menjadi juara sekaligus MVP (Most Valuable Player / Pemain Terbaik Liga 1 2024/2025).
Di Malut United, ia membuktikan bahwa performanya bukan kebetulan. Sepanjang musim 2025/2026, ia kembali menghasilkan 10 gol dan 12 assist dari 32 pertandingan.
Kini Persita menjadi bab berikutnya.
Klub Tangerang itu tidak mendatangkan Tyronne untuk mengulang masa lalu.
Mereka membutuhkannya untuk membantu menciptakan masa depan yang berbeda.
Dan di sinilah transfer ini menjadi taruhan yang menarik.
Persita tidak sedang bertaruh apakah Tyronne masih bisa bermain sepak bola.
Ia sudah membuktikannya.
Pertaruhan sebenarnya adalah apakah pengalaman dan kreativitas pemain berusia 35 tahun itu bisa diterjemahkan Carlos Pena menjadi performa kolektif yang lebih baik.
Jika jawabannya iya, Tyronne bisa menjadi salah satu rekrutan paling berpengaruh Persita musim ini.
Bukan karena usianya.
Justru karena Persita tahu bagaimana menggunakan pengalaman yang datang bersama usia tersebut.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!