Misi Berat De Zerbi Selamatkan Tottenham Hotspur dari Jurang Degradasi
Sabtu, 11 April 2026 | 16:33
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Tottenhamhotspur.com
Tantangan besar sudah menanti Roberto De Zerbi sejak resmi menangani Tottenham Hotspur. Datang di saat krisis, pelatih asal Italia itu memikul tanggung jawab berat, menjaga Spurs tetap bertahan di Premier League musim depan.
De Zerbi akan menjalani debutnya saat Tottenham menghadapi Sunderland, Minggu 12 April. Laga ini bisa menjadi titik awal kebangkitan atau justru memperdalam tekanan.
Kondisi Spurs saat ini jauh dari ideal. Mereka belum meraih satu pun kemenangan di liga sepanjang tahun 2026 dan hanya mencatatkan dua kemenangan sejak 26 Oktober 2025.
BACA JUGA
Terima Kasih Arsenal! Liga Inggris Kembali Punya 5 Wakil di Liga Champions
Akhir Era Mohamed Salah di Liverpool, Kisah 9 Tahun yang Tak Tergantikan
Liverpool Ditahan Spurs 1-1, Gol Menit Akhir Richarlison Gagalkan Kemenangan The Reds
Situasi semakin memburuk setelah tersingkir dari Liga Champions UEFA usai kalah agregat 5-7 dari Atletico Madrid di Babak 16 Besar.
De Zerbi datang sebagai pelatih ketiga musim ini, setelah pergantian dari Thomas Frank dan Igor Tudor.
Bahkan, Tudor hanya bertahan selama 44 hari dengan tujuh pertandingan, menunjukkan betapa tidak stabilnya situasi di ruang ganti Spurs.
Meski demikian, De Zerbi menolak membandingkan dirinya dengan para pendahulunya.
“Saya pikir saya tidak lebih baik dari Frank atau Tudor karena saya menganggap mereka pelatih yang sangat bagus. Saya hanya mencoba membawa gaya, karakter, kepribadian, dan kekuatan saya untuk mencapai target kami, yang saat ini adalah hal terpenting,” ujarnya di laman resmi klub, Sabtu.
Saat ini, Tottenham terjerembap di posisi ke-18, zona degradasi, hanya terpaut dua poin dari West Ham United di atasnya. Kemenangan atas Sunderland akan menjadi penyelamat sementara dengan kembali ke posisi 17.
Namun, tekanan bukan hanya datang dari klasemen. Secara historis, Spurs bukan klub yang akrab dengan degradasi.
Sejak 1950, mereka hanya sekali terlempar dari kasta tertinggi, tepatnya pada musim 1977-1978. Fakta ini menambah beban bagi De Zerbi untuk menghindari noda sejarah.
Di tengah situasi sulit, sang pelatih tetap menunjukkan optimisme.
“Saya bangga dan senang berada di sini. Saya harus berterima kasih kepada Vinai Venkatesham dan Johan Lange karena mereka menunjukkan kepercayaan yang sangat besar kepada saya,” katanya.
Dengan waktu persiapan terbatas, mantan pelatih Brighton itu menekankan pentingnya memahami masalah tim secepat mungkin. Ia juga menyoroti peran penting suporter dalam membantu tim keluar dari krisis.
Kini, semua mata tertuju pada De Zerbi. Apakah ia mampu membalikkan keadaan dan menyelamatkan Tottenham, atau justru terseret dalam krisis yang semakin dalam?










