ID EN

Demi Keselamatan, Syarat Pendakian ke Gunung Fuji Kini Diperketat

Minggu, 12 Oktober 2025 | 15:36

Penulis: Respaty Gilang

Gunung Fuji
Gunung Fuji.
Sumber: Freepik

Musim pendakian Gunung Fuji tahun ini menghadirkan kabar baik bagi para pecinta alam dan wisatawan. Data terbaru dari Kepolisian Prefektur Shizuoka mencatat jumlah pendaki yang terjebak di jalur gunung tertinggi di Jepang itu menurun hingga 44 persen dibandingkan tahun lalu, tanpa satu pun laporan korban jiwa.

Dari sekitar 84.000 orang yang mendaki lewat jalur Shizuoka antara Juli hingga September 2025, hanya 36 orang yang memerlukan bantuan tim penyelamat. Sebagai perbandingan, pada musim sebelumnya ada 64 pendaki yang harus dievakuasi dan enam di antaranya meninggal dunia.

Angka itu jadi bukti bahwa langkah tegas yang diambil pemerintah setempat akhirnya membuahkan hasil.

Aturan Baru Cegah Pendakian Sembrono

Gunung Fuji selama ini bukan cuma magnet bagi turis dan pendaki lokal, tapi juga sering jadi sorotan karena banyaknya insiden di jalur pendakian. Salah satu penyebab utamanya adalah praktik bullet climbing, mendaki semalaman tanpa istirahat di pondok pendakian hanya demi melihat matahari terbit dari puncak setinggi 3.776 meter.

Masalah lain yang kerap muncul adalah pendaki yang kurang persiapan, baik dari sisi perlengkapan maupun fisik. Banyak yang nekat naik hanya dengan kaus, celana pendek, bahkan sandal, tanpa mempertimbangkan kondisi ekstrem di ketinggian.

Untuk menekan risiko itu, Pemerintah Prefektur Shizuoka memberlakukan aturan lebih ketat tahun ini. Biaya masuk jalur pendakian digandakan menjadi 4.000 yen (sekitar Rp437 ribu), dan pendaki dilarang memulai perjalanan antara pukul 14.00 hingga 03.00 kecuali telah memesan tempat di pondok gunung.

Langkah serupa juga diambil oleh Prefektur Yamanashi, yang mengelola salah satu dari empat rute resmi menuju puncak Fuji. Hasilnya serupa, jumlah penyelamatan pendaki menurun drastis sejak kebijakan itu diterapkan.

Tantangan Masih Ada di Luar Musim Pendakian

Meski tren keselamatan meningkat di musim resmi, tantangan belum sepenuhnya hilang. Sejumlah insiden masih terjadi di luar musim pendakian, saat kondisi gunung lebih ekstrem dan fasilitas pendukung tidak beroperasi.

Beberapa kasus bahkan melibatkan turis asing yang datang pada waktu yang salah dan tetap mencoba mendaki meski jalur resmi ditutup. Ada pula warga lokal yang naik gunung secara spontan tanpa peralatan lengkap.

Pada Juni 2024, misalnya, tiga pria Jepang berusia 30 hingga 50 tahun ditemukan tewas di sekitar kawah Fuji. Sementara itu, seorang wisatawan asal Amerika Serikat berusia 60-an berhasil diselamatkan setelah mengalami hipotermia di tahun ini, ketika gunung masih belum dibuka untuk publik.

Kisah lain datang dari April 2025, ketika seorang mahasiswa asal Tiongkok diselamatkan dengan helikopter setelah jatuh sakit di dekat puncak. Empat hari kemudian, ia kembali harus dievakuasi setelah nekat mendaki lagi untuk mengambil ponsel yang tertinggal.

Menuju Pendakian yang Lebih Aman dan Tertib

Melihat tren positif di tahun ini, Pemerintah Prefektur Shizuoka kini sedang mempertimbangkan kebijakan tambahan mulai dari pengenaan denda bagi pendaki yang melanggar aturan hingga biaya evakuasi helikopter bagi mereka yang nekat mendaki tanpa izin.

Langkah-langkah ini bukan untuk menakut-nakuti wisatawan, melainkan untuk memastikan bahwa Gunung Fuji tetap bisa dinikmati secara aman, tertib, dan berkelanjutan.

Dengan pemandangan spektakuler, udara yang menenangkan, dan statusnya sebagai ikon Jepang, Fuji akan selalu menggoda siapa pun untuk mendakinya. Namun kini, satu pesan jelas tersampaikan bahwa keindahan alam harus dihormati, bukan ditaklukkan secara sembrono. (Antara)