Ucapan Lama Mourinho Kembali Viral, Relevan dengan Pemecatan Xabi Alonso?
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Penulis: Arif S

Sumber: Wikimedia
Pemecatan Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid bukan hanya menutup satu babak singkat di Santiago Bernabeu. Keputusan itu seolah membuka kembali problem ruang ganti yang sulit dikendalikan. Problem lama ini tak pernah benar-benar hilang dari Madrid.
Alonso resmi berpisah dengan Los Blancos setelah Real Madrid kalah 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol, Senin 12 Januari 2026 dini hari WIB.
Namun kekalahan itu diyakini hanya menjadi pemicu terakhir dari persoalan yang telah lama mengendap di balik layar.
BACA JUGA
Xabi Alonso Dipecat Real Madrid Usai Kalah di Final Piala Super Spanyol, Arbeloa Ambil Alih Kursi Panas Bernabeu
Seret gol, Alonso Tegaskan Vinicius Pemain Penting Bagi Real Madrid
Bahaya Besar! Real Madrid Terancam Kehilangan Vinicius Jika Negosiasi Kontrak Baru Tetap Buntu
Sejumlah media Spanyol melaporkan adanya keretakan internal di ruang ganti. Beberapa pemain disebut tidak cocok dengan pendekatan Alonso yang menekankan disiplin ketat, mulai dari larangan keluarga hadir di tempat latihan, beban fisik tinggi, hingga keputusan taktis.
Terkait keputusan taktis Alonso memicu reaksi emosional Vinícius Júnior saat ditarik keluar.
Dalam konteks itulah, pernyataan lama Jose Mourinho kembali beredar luas di media sosial, seolah menjadi refleksi dari situasi di Madrid.
Mourinho menjadi pelatih Real Madrid pada 2010-2013. Pelatih asal Portugal yang memberi gelar LaLiga dan Copa del Rey itu pernah mengungkapkan tantangan terbesarnya di Madrid.
"Di Madrid, saya berhasil melakukan segalanya kecuali membangun skuad yang bersatu," ujarnya.
Saat itu Mourinho bahkan mengungkapkan Presiden klub, Florentino Perez sempat memintanya kembali pada 2015 untuk membereskan ruang ganti.
"Di tahun 2015, Florentino Perez meminta saya untuk kembali. Saya tahu, dia menyukai saya," tambahnya.
Namun Mourinho menolak, dengan alasan perubahan yang dibutuhkan sudah tidak lagi mungkin dilakukan.
"Dia menelepon saya, mengatakan beberapa pemain yang 'buruk' harus disingkirkan seperti Casillas, Ramos, Marcelo, dan Pepe. Saya balas, itu sudah terlambat," pungkasnya.
Kini, hampir satu dekade setelah pernyataan itu, situasi serupa tampaknya kembali menghantui Real Madrid dengan aktor berbeda.
Xabi Alonso datang dengan reputasi membangun disiplin dan struktur. Namun di klub dengan ego sebesar Madrid, disiplin sering kali berbenturan dengan status, sejarah, dan pengaruh individu.
Ketika Real Madrid kembali mencari stabilitas, ucapan lama Mourinho menjadi viral bukan karena nostalgia tetapi relevansinya dengan kenyataan hari ini.










