Arab Saudi Buka Toko Alkohol Pertama di Riyadh, Aturan Ketat untuk Pembeli Diterapkan
Senin, 29 Desember 2025 | 20:04
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Canva
Arab Saudi kembali memberi sinyal perubahan dalam wajah pariwisatanya. Untuk pertama kalinya, kerajaan tersebut mulai membuka akses ke satu-satunya Toko Alkohol di Riyadh, meski dengan aturan super ketat dan segmentasi pengunjung yang sangat terbatas.
Langkah ini menjadi penanda transformasi pelan namun signifikan di negara yang selama puluhan tahun dikenal dengan larangan alkohol total.
Toko tersebut tidak bisa diakses sembarang orang. Penjualan alkohol hanya diperuntukkan bagi warga asing non-Muslim pemegang Premium Residency, sebuah izin tinggal khusus yang menyasar investor, pengusaha, dan tenaga ahli berpenghasilan tinggi.
BACA JUGA
Cara Kereta Cepat Arab Saudi Ajak Pelancong Gunakan Transportasi Bebas Macet Madinah-Jeddah
Diplomasi Wisata Indonesia Makin Kuat, Arab Saudi Jadi Mitra Kunci di Timur Tengah
Potensi Long-Stay Turis Arab Saudi Target Pariwisata Indonesia
Kebijakan ini dinilai sebagai bagian dari strategi besar Arab Saudi untuk menarik wisatawan kelas atas dan modal asing, sejalan dengan visi diversifikasi ekonomi kerajaan.
Dikutip dari Associated Press, Senin, 29 Desember 2025 toko tanpa papan nama itu berada di Kawasan Diplomatik Riyadh. Meski pembukaannya tidak pernah diumumkan secara resmi, kabar soal akses baru ini cepat menyebar. Antrean kendaraan dan pengunjung pun sempat terlihat di kawasan tersebut. Sebelumnya, sejak dibuka pada Januari 2024, toko ini hanya melayani diplomat asing non-Muslim.
Bagi Traveler yang belum familiar, Premium Residency merupakan status tinggal eksklusif di Arab Saudi. Berbeda dengan izin tinggal biasa, pemegangnya tidak memerlukan sponsor lokal dan mendapatkan berbagai hak istimewa, mulai dari kepemilikan properti hingga membuka usaha sendiri. Skema ini dirancang untuk menarik individu dengan nilai ekonomi tinggi agar menetap dan berinvestasi di kerajaan.
Perlu dicatat, Arab Saudi adalah negara dengan hukum Syariah yang ketat dan menjadi rumah bagi dua kota suci Islam, Makkah dan Madinah. Alkohol telah dilarang sejak awal 1950-an. Karena itu, kehadiran toko ini dipandang sebagai uji coba terbatas dalam agenda reformasi yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman, sekaligus upaya mengurangi ketergantungan ekonomi pada sektor minyak.
Dari sisi keamanan, aturan di toko tersebut tergolong ekstrem. Pengunjung harus melewati pemeriksaan berlapis. Ponsel dan kamera dilarang, bahkan kacamata turut diperiksa untuk memastikan bukan perangkat pintar. Dari dalam, suasananya disebut mirip toko bebas bea bandara, meski pilihan minuman masih terbatas dan harganya relatif mahal.
Selama ini, warga Saudi maupun ekspatriat yang ingin mengonsumsi alkohol biasanya memilih bepergian ke negara tetangga seperti Bahrain atau Dubai. Alternatif lain yang kini makin populer adalah minuman non-alkohol. Di festival musik dan acara besar, minuman tanpa alkohol menjadi tren di kalangan anak muda yang ingin tetap merasakan atmosfer sosial tanpa melanggar aturan.
Jika ditarik ke belakang, larangan alkohol di Arab Saudi memiliki latar sejarah yang kuat. Pada 1951, putra Raja Abdulaziz menembak mati Wakil Konsul Inggris dalam kondisi mabuk. Insiden tersebut menjadi titik balik yang mendorong pelarangan total alkohol di seluruh kerajaan. Aturan itulah yang kini, lebih dari tujuh dekade kemudian, mulai diuji ulang secara sangat terbatas.
Bagi Traveler internasional, kebijakan ini bukan berarti Arab Saudi berubah menjadi destinasi bebas alkohol. Justru sebaliknya, kerajaan ingin menunjukkan bahwa keterbukaan Pariwisata bisa berjalan berdampingan dengan nilai budaya dan agama, meski dengan kontrol ketat. Sebuah eksperimen sosial dan ekonomi yang kini menjadi sorotan dunia.










