Bukan Sensasi, Ini Alasan Masniari Wolf Dijuluki Ratu Renang Gaya Punggung Indonesia
Sabtu, 13 Desember 2025 | 16:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antara Foto/Muhammad Ramdan
Masniari Wolf dijuluki sebagai Ratu Gaya Punggung Indonesia. Julukan tersebut tidak lahir dari sensasi, melainkan dari konsistensi prestasi dari satu edisi SEA Games ke edisi berikutnya.
Kini namanya identik dengan nomor 50 meter backstroke putri di Asia Tenggara.
Di kolam renang Swimming Pool, Sports Authority of Thailand, Bangkok, Kamis 11 Desember 2025, Masniari kembali menegaskan statusnya sebagai penguasa.
BACA JUGA
Akhir Penantian 12 Tahun, Tim Compound Beregu Putri Indonesia Raih Emas SEA Games 2025
Bonus Peraih Emas SEA Games 2025 Rp1 Miliar, Berapa Besaran Medali Perak dan Perunggu?
Indonesia Tak Terkejar Vietnam, Amankan Runner-up Perolehan Emas SEA Games 2025
Perenang berusia 20 tahun itu melesat paling cepat dengan catatan waktu 28,80 detik, memastikan medali emas sekaligus menorehkan rekor nasional baru.
Raihan tersebut bukan hanya emas ketiga secara beruntun di SEA Games, tetapi juga memecahkan rekor nasional 28,86 detik yang sebelumnya dipegang Flairene Candrea.
Di belakang Masniari, perenang Thailand Saovanee Boonamphai merebut perak dengan 28,84 detik, disusul Kayla Noelle Sanchez dari Filipina yang meraih perunggu.
Flairene Candrea finis keempat dengan 28,98 detik.
Bagi Masniari, emas di Thailand 2025 melengkapi hattrick prestasi di pesta olahraga terbesar Asia Tenggara.
Sebelumnya, ia tampil sebagai debutan di SEA Games Vietnam 2021 dan langsung menyabet emas dengan waktu 29,21 detik, sekaligus mengakhiri puasa emas gaya punggung putri Indonesia sejak 2011.
Dominasi itu berlanjut di SEA Games Kamboja 2023. Masniari kembali naik podium tertinggi dengan torehan waktu lebih cepat, 28,89 detik, hasil yang menegaskan emas Vietnam bukan kebetulan. Thailand 2025 kemudian menjadi penanda kematangannya sebagai atlet elite di kawasan ASEAN.
Di balik deretan angka dan medali, ada proses panjang seorang atlet yang tumbuh jauh dari Tanah Air, tetapi memilih mempersembahkan prestasi untuk Indonesia.
Masniari, berdarah Batak–Jerman, kini menjadi salah satu tulang punggung renang putri Indonesia, khususnya di nomor gaya punggung.
Lahir dan besar di Jerman, Masniari mulai mengenal renang sejak usia 11 tahun. Awalnya, renang hanyalah aktivitas menyenangkan yang ia jalani seminggu sekali, hingga sebuah tawaran dari pelatih mengubah arah hidupnya.
“Saya sudah berenang hampir sepanjang hidup saya. Dulu, sebagai anak kecil, saya melakukannya karena menyenangkan,” ujar Masniari.
“Kemudian seorang pelatih dari tim yang levelnya lebih tinggi dari klub saya datang dan menawarkan saya untuk bergabung, berlatih empat kali seminggu.”
Tawaran itu sempat membuatnya ragu, tetapi setelah beberapa bulan berpikir, ia menerima tantangan tersebut, keputusan yang kelak menjadi fondasi kariernya.
Berlatih di Jerman, dari Wiesbaden hingga Frankfurt, Masniari mengasah berbagai gaya.
“Di sana saya berkembang. Saya punya kecepatan di usia 11 tahun. Saya pikir keputusan saya tepat untuk berlatih lebih sering. Rasanya menyenangkan, jadi saya lanjutkan sampai sekarang,” katanya.
Awalnya ia sempat fokus ke gaya bebas, namun pelatih melihat potensi lebih besar di nomor lain.
“Saya sempat memutuskan fokus di freestyle. Tapi pelatih menyarankan saya belajar backstroke karena melihat saya punya kecepatan di gaya itu,” katanya. Dari situlah spesialisasi Masniari terbentuk.
Kini, Masniari membidik level lebih tinggi. Target berikutnya adalah Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya dan Olimpiade Los Angeles 2028.
“Setelah SEA Games ini saya akan berenang banyak kilometer, mungkin tujuh sampai delapan kilometer. Itu akan saya lakukan dua kali sehari selama beberapa bulan,” katanya.
Ia berharap persiapan menuju Asian Games bisa berjalan dengan baik.(Antara)










