Jakarta – Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI) mulai mentransformasi sistem pembinaan atlet melalui integrasi pembinaan prestasi, penerapan Sport Science, serta pemanfaatan teknologi sebagai strategi mencetak Pegolf Indonesia yang mampu bersaing di level internasional.
Transformasi ini dipaparkan Ketua Bidang Kejuaraan dan Prestasi PB PGI, Adi Saksono, dalam Podcast Itsme bersama host Syafira dan Yatna di Royale Jakarta Golf Club, Jakarta, pada 20 April 2026.
Adi menjelaskan, di bawah kepemimpinan Ketua Umum PB PGI, KPH Japto S. Soerjosoemarno, bidang pertandingan, pembinaan prestasi (Binpres), pengembangan peralatan golf, serta teknologi kini diintegrasikan dalam satu sistem. Langkah ini dilakukan agar proses pembinaan atlet lebih terarah, efektif, dan mudah dikontrol sehingga mampu menjawab tuntutan perkembangan golf modern.
BACA JUGA
Daftar Lengkap Juara The JGS Elite International Championship 2026 di Jakarta
Bintang Baru Asia Tenggara: Passion Hsu Rajai JGS Indonesia 2026
M. Devian Targetkan Podium Dunia: Pegolf Cilik 9 Tahun Hasil Kawah Candradimuka JGS Indonesia
Sejalan dengan transformasi tersebut, PB PGI mulai menerapkan pendekatan Sport Science dengan memanfaatkan teknologi informasi dan sistem digital untuk mendukung pengembangan atlet. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembinaan sekaligus memperkuat daya saing Pegolf Indonesia di tingkat internasional.
Di sisi lain, pembinaan golf prestasi masih menghadapi tantangan besar dari aspek pendanaan. Golf merupakan cabang Olahraga yang membutuhkan biaya operasional tinggi, mulai dari latihan di lapangan berstandar internasional hingga mengikuti turnamen profesional. Karena itu, PB PGI berharap semakin banyak perusahaan nasional memberikan dukungan terhadap pembinaan atlet, bukan hanya kegiatan golf yang bersifat rekreasi atau fun golf.
Dalam membangun atlet, Adi mengibaratkan proses pembinaan sebagai sebuah piramida. Semakin tinggi jenjang prestasi, jumlah atlet yang bertahan akan semakin sedikit. Karena itu, kemampuan teknik saja tidak cukup. Mental bertanding, etika, disiplin, perilaku saat berkompetisi, serta kemampuan menghadapi tekanan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan seorang pegolf.
Menurut Adi, kemampuan teknik Pegolf Indonesia sebenarnya sudah mampu bersaing dengan atlet dari berbagai negara. Namun, tidak sedikit atlet yang kehilangan performa pada putaran-putaran akhir akibat tekanan pertandingan. Untuk memperkuat aspek tersebut, PB PGI mulai menerapkan pendampingan psikolog dan melibatkan tim ahli dalam pembinaan atlet tim nasional.
Pembinaan juga dilakukan sejak usia dini. Anak-anak di bawah delapan tahun didorong mengeksplorasi berbagai cabang Olahraga untuk mengembangkan kemampuan motorik, sedangkan pada usia delapan hingga dua belas tahun mulai diarahkan ke olahraga yang lebih spesifik. Dalam golf, pembentukan muscle memory melalui pengulangan teknik yang benar menjadi fondasi penting bagi perkembangan atlet.
Hasil pembinaan mulai menunjukkan perkembangan positif. Adi menyebut saat ini terdapat lebih dari 50 pegolf putra dan putri Indonesia yang telah masuk World Amateur Golf Ranking (WAGR). Sejumlah atlet junior juga berhasil memperoleh beasiswa penuh ke berbagai universitas di Amerika Serikat berkat prestasi dan peringkat dunia yang mereka raih.
Untuk menjaga regenerasi, PB PGI berupaya menyediakan kalender kompetisi junior sekitar 49 dari 52 pekan dalam satu tahun. Adi juga mengapresiasi Junior Golf Service (JGS) yang memberikan kesempatan kepada para Juara untuk bertanding di luar negeri sebagai bekal membangun mental agar tidak hanya menjadi "jago kandang", tetapi juga siap bersaing di panggung internasional.
Dengan sistem pembinaan yang semakin terintegrasi, kalender kompetisi yang berlangsung hampir sepanjang tahun, serta semakin banyaknya pegolf Indonesia yang masuk World Amateur Golf Ranking dan memperoleh beasiswa ke luar negeri, PB PGI optimistis regenerasi atlet nasional akan semakin kuat dan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di level internasional.










