ID EN

Tahan Spanyol dan Uruguay, Tanjung Verde Jadi Fenomena Piala Dunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 17:02

Penulis: Rojes Saragih

Sentul, Bogor - Tanjung Verde menjadi salah satu fenomena terbesar Piala Dunia 2026. Tim debutan asal Afrika Barat itu berhasil mengubah cara dunia memandang mereka setelah menahan dua mantan juara dunia, Spanyol dan Uruguay, pada dua pertandingan pertama Grup H. Di balik kisah mengejutkan itu, muncul sosok kiper veteran Vozinha yang mendadak menjadi bintang baru Sepak Bola Dunia.

Ketika Tanjung Verde bermain imbang 0-0 melawan Spanyol pada laga pembuka, perhatian publik sepak bola sebenarnya lebih banyak tertuju kepada Spanyol. Banyak pengamat mempertanyakan bagaimana salah satu kekuatan terbesar Eropa gagal membobol gawang tim yang baru pertama kali tampil di putaran final Piala Dunia.

Namun narasi itu berubah beberapa hari kemudian.

Menghadapi Uruguay, negara yang pernah dua kali menjuarai Piala Dunia, Tanjung Verde kembali menunjukkan kualitasnya. Mereka tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mencetak dua gol dan memaksa Uruguay bermain imbang 2-2. Setelah hasil tersebut, perhatian dunia tidak lagi tertuju pada kelemahan Spanyol atau Uruguay, melainkan pada kekuatan Tanjung Verde yang ternyata jauh lebih baik dari perkiraan banyak orang.

Fenomena Tanjung Verde menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Podcast ITSMe yang dipandu Gilang Respaty dan Yatna dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor. Dalam diskusi ini, pengamat sepak bola Ronny Pangemanan dan Haris Pardede atau Bung Harpa mengulas faktor-faktor yang membuat Tanjung Verde mampu menjadi salah satu cerita terbesar di Piala Dunia 2026.

Menurut Ronny Pangemanan, keberhasilan Tanjung Verde bukanlah sebuah kebetulan. Negara kepulauan yang berpenduduk sekitar 520 ribu jiwa itu datang ke Piala Dunia melalui proses kualifikasi yang berat. Dalam perjalanan menuju putaran final, mereka mampu bersaing dan unggul dari sejumlah kekuatan Sepak Bola Afrika, termasuk Kamerun.

Karena itu, Ronny menilai Tanjung Verde tidak bisa dipandang sebagai tim yang hanya mengandalkan keberuntungan. Mereka telah menunjukkan kualitasnya sejak babak kualifikasi dan kini membuktikannya di panggung terbesar sepak bola dunia.

Sementara itu, Bung Harpa melihat kekuatan utama Tanjung Verde terletak pada organisasi permainan yang disiplin dan keberanian mereka menghadapi lawan yang secara tradisi jauh lebih besar. Tidak ada rasa inferior ketika berhadapan dengan Spanyol maupun Uruguay. Mereka bermain dengan keyakinan bahwa mereka memang layak berada di Piala Dunia.

Di balik keberhasilan tersebut, satu nama menjadi pusat perhatian dunia, yaitu Vozinha.

Kiper veteran itu tampil luar biasa saat menghadapi Spanyol dengan mencatat tujuh penyelamatan penting. Aksinya membuat para penyerang Spanyol frustrasi dan menjadi faktor utama lahirnya hasil imbang tanpa gol yang kemudian mengangkat nama Tanjung Verde ke panggung internasional.

Menariknya, kisah Vozinha di luar lapangan tidak kalah unik. Nama lengkapnya adalah Josimar José Évora Dias. Dalam diskusi tersebut disebutkan bahwa nama Josimar diberikan karena sang ayah mengagumi seorang pemain Brasil bernama Yoshimar.

Sementara itu, julukan "Vozinha" memiliki cerita yang lebih menarik lagi. Dalam bahasa Portugis, kata tersebut berarti "nenek". Julukan itu melekat sejak kecil karena ia sering menangis dan mengadu kepada neneknya setiap kali kalah bermain sepak bola bersama teman-temannya.

Julukan masa kecil yang lahir dari kebiasaan mengadu kepada nenek kini justru dikenal luas oleh penggemar sepak bola di seluruh dunia. Popularitas Vozinha melonjak tajam setelah penampilannya di Piala Dunia. Dalam hitungan hari, akun media sosialnya dibanjiri pengikut baru dari berbagai negara dan menjadikannya salah satu sosok yang paling banyak diperbincangkan selama turnamen berlangsung.

Fenomena ini bahkan memunculkan diskusi menarik mengenai kemungkinan Tanjung Verde menjadi lawan yang ideal bagi Timnas Indonesia pada agenda FIFA Matchday mendatang. Selain sedang berada dalam sorotan dunia, kualitas permainan mereka dinilai dapat menjadi ujian yang baik bagi skuad Garuda.

Dua pertandingan memang baru menghasilkan dua poin. Namun dua poin itu sudah cukup untuk mengubah cara dunia memandang Tanjung Verde. Dari tim debutan yang nyaris tidak diperhitungkan, mereka kini menjelma menjadi salah satu cerita paling menarik dan inspiratif di Piala Dunia 2026.