Grup C Piala Dunia 2026: Brasil Favorit, Haiti Jadi Kuda Hitam Pemburu Sejarah
Selasa, 9 Juni 2026 | 11:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antaranews/CBF
Grup C Piala Dunia 2026 menyajikan kombinasi antara tradisi, ambisi, dan peluang kejutan. Saat turnamen sepak bola terbesar di dunia digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai 12 Juni WIB, perhatian akan tertuju pada persaingan empat negara dengan latar belakang berbeda, Brasil, Maroko, Skotlandia, dan Haiti.
Di atas kertas, Brasil paling favorit untuk lolos ke babak 32 besar. Namun di balik dominasi Selecao, ada satu tim berpotensi mencuri perhatian dan mengubah peta persaingan grup, Haiti. Negara Karibia itu kembali ke putaran final dengan semangat menorehkan sejarah baru.
Berdasarkan laman FIFA, Brasil tidak hanya dijagokan untuk memuncaki Grup C, tetapi juga masuk dalam daftar kandidat kuat juara dunia. Status itu tidak lepas dari tradisi panjang dan kualitas skuad.
BACA JUGA
Pemanasan Sempurna Ancelotti Jelang Piala Dunia 2026, Brasil Bungkam Panama 6-2
Balogun Bersinar, Amerika Serikat Hajar Paraguay di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Prediksi Brasil vs Maroko: Selecao Tetap Favorit Meski Atlas Lions Bisa Mengejutkan
Tim Samba masih menjadi negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan koleksi lima gelar juara pada edisi 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002. Meski sudah lebih dari dua dekade tidak mengangkat trofi, Brasil tetap menjadi salah satu kekuatan paling disegani di pentas Sepak Bola Dunia.
Brasil datang dengan kombinasi pemain senior dan generasi baru yang menjanjikan di bawah arahan pelatih Carlo Ancelotti.
Nama-nama seperti Neymar Jr, Vinicius Junior, dan Raphinha menjadi motor serangan tim. Di sektor pertahanan, ketangguhan Alisson Becker di bawah mistar serta kepemimpinan Marquinhos memberikan keseimbangan.
Dengan kedalaman skuad dan pengalaman di turnamen internasional, target Brasil hanya satu: mengakhiri penantian panjang dan merebut gelar dunia keenam.
Meski demikian, perjalanan Brasil menuju babak gugur dipastikan tidak akan mudah. Maroko menjadi penantang utama setelah menciptakan sejarah pada Piala Dunia 2022 dengan menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal.
Atlas Lions tetap diperkuat sejumlah pemain kunci di Piala Dunia Qatar. Kehadiran Achraf Hakimi, Brahim Diaz, dan Sofyan Amrabat memperkuat Maroko sebagai tim yang layak diperhitungkan.
Tim asuhan Mohamed Ouahbi bahkan membawa ambisi lebih besar dibanding empat tahun lalu. Setelah mencicipi semifinal, Maroko ingin melangkah lebih jauh dan membuktikan pencapaian di Qatar bukan kebetulan.
Di sisi lain, Skotlandia membawa cerita tersendiri. Setelah menunggu selama 28 tahun, mereka akhirnya kembali ke putaran final Piala Dunia.
Kemenangan atas Denmark pada November 2025 mengakhiri penantian panjang sejak Piala Dunia 1998 di Prancis. Di bawah arahan Steve Clarke, Skotlandia memiliki generasi pemain lebih matang dan berpengalaman.
Kapten Andy Robertson akan memimpin skuad yang juga dihuni Scott McTominay, Ryan Christie, John McGinn, dan Che Adams. Kombinasi tersebut memberi harapan bagi The Tartan Army untuk tampil kompetitif dan tidak sekadar menjadi pelengkap di Grup C.
Namun, di tengah sorotan ke arah Brasil, Maroko, dan Skotlandia, Haiti berpotensi menjadi cerita paling menarik di grup ini.
Les Grenadiers kembali ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974. Kehadiran Haiti mungkin tidak banyak dibicarakan, tetapi perjalanan menuju Amerika Utara menunjukkan mereka bukan kontestan yang bisa diremehkan.
Tim asuhan Sebastien Migne konsisten sepanjang kualifikasi CONCACAF. Setelah sempat menjadi runner-up di belakang Curacao pada fase sebelumnya, Haiti bangkit dan menunjukkan performa lebih solid pada putaran penentuan.
Mereka mampu bersaing dengan tim berpengalaman seperti Kosta Rika dan Honduras untuk mengamankan posisi puncak grup dan merebut tiket ke putaran final.
Di lapangan, Haiti mengandalkan kapten sekaligus mesin gol utama Duckens Nazon. Penyerang berpengalaman tersebut menjadi figur penting dalam permainan tim dan akan didukung Frantzdy Pierrot serta sejumlah Pemain Diaspora yang berkarier di berbagai liga Eropa dan Amerika Utara.
Meski tidak memiliki sejarah besar seperti Brasil atau pengalaman internasional seperti Maroko, Haiti membawa motivasi untuk menciptakan sejarah.
Pada penampilan pertama mereka di Piala Dunia 1974, Haiti gagal melewati fase grup. Kini, lebih dari lima dekade kemudian, kesempatan baru hadir untuk memperbaiki catatan tersebut.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!