ID EN

Transformasi Kota Tua Padang: Dari Warisan Sejarah Menuju Destinasi Modern

Jumat, 1 Mei 2026 | 09:46

Penulis: Arif S

Kafe terapung di Sungai Batang Arau, Padang, Sumatera Barat
Kafe terapung di Sungai Batang Arau, Padang, Sumatera Barat.
Sumber: Antara Foto/Fitra Yogi.

Di tepian Padang, aliran Batang Arau tidak sekadar membawa air tetapi juga mengalirkan sejarah panjang yang kini perlahan dihidupkan kembali. Wacana revitalisasi kawasan kota tua seluas 32.690 meter persegi telah muncul sejak 1998, menjadi upaya berkelanjutan untuk merawat identitas kota melalui pelestarian 74 bangunan Cagar Budaya.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Gempa besar pada Gempa Sumatra Barat 2009 mengubah banyak hal, merusak 46 bangunan bersejarah dan menghentikan sementara rencana pengembangan kawasan wisata terpadu. 

Sejak saat itu, Revitalisasi Kota Tua Padang berkembang menjadi kisah tentang ketahanan, bagaimana sebuah kota bangkit dari reruntuhan, perlahan menata ulang wajahnya.

Upaya tersebut kembali menemukan arah ketika konsep Kawasan Wisata Terpadu diperkenalkan, menghubungkan lanskap kota dari Pantai Padang hingga Jembatan Siti Nurbaya, menyusuri Gunung Padang dan berakhir di Pantai Air Manis. 

Penataan pedagang, pembangunan jalur pedestrian, serta pembenahan bantaran sungai mulai mengubah kawasan yang dulunya kumuh menjadi lebih ramah bagi pejalan kaki.

Di bawah visi terbaru “Padang Rancak”, revitalisasi diarahkan lebih menyeluruh. Pemerintah kota tidak hanya mempercantik jembatan dan menyeragamkan warna bangunan, tetapi juga menyusun masterplan, membagi kawasan kota tua ke dalam sembilan subkawasan dengan karakter budaya berbeda, mulai dari Kampung Tionghoa hingga kawasan etnis India.

Namun, inti dari transformasi ini tetap berpusat pada Batang Arau. Sungai yang dulunya menjadi urat nadi perdagangan kini menghadapi tantangan serius. Sedimentasi, sampah, hingga bangkai kapal yang menghambat aliran air. Revitalisasi menuntut pengerukan, pembangunan dermaga permanen, serta perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai.

Menurut Wiendu Nuryanti dari Universitas Gajah Mada, upaya ini bukan sekadar memperbaiki fisik kota, melainkan menghidupkan kembali ruang budaya dan ekonomi. 

Aktivitas seperti car free night dan pentas seni telah menunjukkan bagaimana kawasan ini bisa menjadi ruang interaksi dinamis, sekaligus menggerakkan UMKM lokal.

Lebih jauh, revitalisasi diarahkan untuk menciptakan pengalaman wisata utuh. Penataan tepi sungai menjadi ruang publik, pengembangan area Ekonomi Kreatif, hingga optimalisasi bangunan cagar budaya sebagai museum atau ruang seni menjadi bagian dari narasi baru Kota Tua Padang.

Dengan kolaborasi lintas sektor, termasuk kerja sama internasional dengan Hildesheim dalam penelitian kualitas air, kawasan ini perlahan menemukan kembali denyutnya. 

Menyusuri Batang Arau dari atas kafe terapung bukan lagi sekadar aktivitas santai, tetapi pintu masuk untuk memahami sejarah, budaya, dan masa depan Kota Tua Padang yang tengah ditulis ulang.***

Sumber: Antara

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!