ID EN

Pariwisata Nasional Didorong Adopsi Generative AI, Kunci Daya Saing Wisata Indonesia

Kamis, 22 Januari 2026 | 15:30

Penulis: Arif S

Pemanfaatan AI di industri pariwisata
Ilustrasi - Pemanfaatan AI di industri pariwisata.
Sumber: Pexels

Teknologi kecerdasan buatan generatif atau Generative Artificial Intelligence (Gen AI) mulai memainkan peran penting dalam cara wisatawan menjelajah dunia. AI menjadi pemandu baru dalam industri wisata modern mulai dari menyusun rencana perjalanan hingga menentukan pengalaman paling personal.

Anggota Komisi VII DPR RI Banyu Biru Djarot menilai perubahan struktur industri Pariwisata global menuntut Indonesia untuk menempatkan teknologi ini sebagai kebutuhan strategis.

Menurutnya, adopsi Gen AI dalam industri pariwisata nasional tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai opsi tambahan. 

Ia menyoroti tren global yang menunjukkan mayoritas wisatawan mengandalkan teknologi AI dalam memilih destinasi dan merancang pengalaman wisata sesuai preferensi pribadi. 

Di era ini, keputusan perjalanan tidak lagi hanya dipengaruhi rekomendasi konvensional, melainkan algoritma yang mempelajari kebiasaan dan minat wisatawan.

"Transformasi Digital telah menjadikan Gen AI sebagai arsitek utama dalam personalisasi pengalaman wisata, mulai dari perencanaan perjalanan, pemesanan layanan, hingga pengelolaan hubungan dengan wisatawan," ujar Banyu dikutip dari keterangannya di Jakarta, Kamis 22 Januari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Pariwisata, yang membahas kesiapan sektor pariwisata nasional menghadapi gelombang transformasi digital. 

Dalam konteks ini, teknologi dipandang sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisata, bukan sekadar efisiensi bisnis.

Meski demikian, Banyu Biru menekankan penerapan Gen AI tidak boleh dilakukan secara serampangan. Ia mengingatkan, pentingnya pendekatan terukur, berkeadilan, dan berpihak pada kepentingan nasional, khususnya sumber daya manusia pariwisata Indonesia.

"Negara tidak boleh berhenti pada posisi sebagai pasar teknologi, tetapi harus memastikan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata agar mampu menjadi pengguna aktif, pengelola, bahkan inovator teknologi," katanya.

Untuk itu, Banyu mendorong Kementerian Pariwisata agar pada 2026 menyusun peta jalan adopsi Gen AI yang komprehensif. 

Peta jalan tersebut diharapkan mencakup pelatihan dan sertifikasi SDM pariwisata, perlindungan tenaga kerja lokal, serta penguatan etika penggunaan AI dalam industri wisata.

Transformasi digital, lanjutnya, harus menjadi sarana peningkatan produktivitas dan kualitas layanan, bukan justru menciptakan ketimpangan baru antara pelaku industri besar dan pelaku lokal. 

Dalam pariwisata, sentuhan manusia, kearifan lokal, dan cerita destinasi tetap menjadi inti pengalaman tak tergantikan.

Banyu Biru juga mengingatkan kualitas pengalaman wisata masa kini semakin dipengaruhi teknologi digital dan kesadaran akan keberlanjutan. 

Wisatawan modern tidak hanya mencari keindahan, tetapi juga pengalaman yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Tren ini tercermin dalam Survei Skyscanner tahun 2024 yang mencatat 54 persen wisatawan global merasa percaya diri menggunakan AI untuk merencanakan perjalanan pada 2026. 

Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa teknologi akan semakin melekat dalam proses perjalanan wisata di masa depan.

Karena itu, pengawasan terhadap implementasi AI agar tetap berpihak pada tenaga kerja lokal menjadi agenda penting bagi DPR dan pemerintah.