Equestrian, Olahraga Para Bangsawan yang Tak Pernah Kehilangan Pesona
Selasa, 7 Oktober 2025 | 14:34
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Freepik
Ada aroma klasik yang selalu hidup dalam dunia berkuda. Dari derap langkah kuda Andalusia di tanah Spanyol hingga gurun berangin di Timur Tengah, olahraga ini selalu menjadi simbol harmoni antara kekuatan, keanggunan, dan kemewahan.
Dalam lingkaran elite global, equestrian bukan sekadar olahraga, melainkan representasi budaya dan status, sebuah perpaduan antara seni, tradisi, dan prestise yang melampaui batas waktu.
Salah satu wajah baru yang menghidupkan tradisi itu adalah Abu Dhabi Royal Equestrian Arts (ADREA), sebuah destinasi yang sedang disiapkan untuk membuka babak baru dalam sejarah equestrian dunia.
Berdiri di atas lahan seluas 65.000 meter persegi di Pulau Jubail, ADREA dirancang sebagai sekolah berkuda klasik permanen pertama di Timur Tengah. Rencananya ANDREA akan dibuka pada November 2025 di bawah arahan Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, pusat ini akan menjadi rumah bagi kuda-kuda terbaik dunia dan pengendara terlatih yang ingin memadukan teknik, seni, dan kemewahan dalam satu tempat.
ADREA bukan sekadar arena latihan. Tempat ini adalah perwujudan filosofi "haute école" — seni berkuda tingkat tinggi yang hanya dimiliki segelintir institusi di dunia, seperti Lipizzan Stallions di Austria atau Real Escuela Andaluza del Arte Ecuestre di Jerez, Spanyol.
Kompleksnya menampilkan arena berpendingin udara yang mampu menampung 1.200 penonton, kandang ber-AC untuk 60 ekor kuda, klinik rehabilitasi modern, serta galeri seni dan museum yang menuturkan sejarah panjang hubungan manusia dan kuda.
Setiap detailnya dipikirkan dengan saksama, mulai dari desain arsitektur yang memadukan gaya Arab klasik dan modern, hingga kualitas pasir di lintasan yang diatur agar nyaman untuk kuda dan estetis di mata penonton.
Real Escuela Andaluza del Arte Ecuestre
Bagi para pencinta tradisi, Spanyol tetap menjadi mercusuar dalam dunia equestrian. Di kota Jerez de la Frontera berdiri Real Escuela Andaluza del Arte Ecuestre, sekolah yang sejak 1973 menjaga warisan kuda Andalusia yang terkenal karena keanggunan dan kecerdasannya.
Pertunjukan legendarisnya, "Cómo bailan los caballos andaluces" — atau “Bagaimana Kuda Andalusia Menari” — memikat ribuan wisatawan setiap tahun. Dalam arena berkapasitas 1.600 penonton, kuda-kuda putih tampil menari mengikuti irama musik klasik Spanyol, menampilkan harmoni yang nyaris spiritual antara penunggang dan hewan. Dari istana hingga gelanggang, Jerez telah menjadikan equestrian sebagai bentuk ekspresi budaya dan kebanggaan nasional.
Perjalanan Berkuda Sebagai Refleksi Diri di NIHI Sumba
Namun kemewahan equestrian tak selalu berarti istana dan formalitas. Di belahan dunia lain, tepatnya di Pulau Sumba, Indonesia, semangat yang sama hadir dalam bentuk yang lebih alami. NIHI Sumba, salah satu resort terbaik dunia versi Travel + Leisure, menghadirkan pengalaman berkuda yang menyatu dengan alam.
Di sini, kuda bukan sekadar simbol status, tapi juga jembatan antara manusia dan lanskap. Tamu bisa menunggang di tepi pantai saat matahari tenggelam, menjelajahi padang sabana yang masih perawan, atau mengikuti sesi equine therapy — meditasi dan healing bersama kuda. Semua dikemas dalam atmosfer yang tenang, hangat, dan personal, menjadikan setiap perjalanan berkuda sebagai refleksi diri.
Equestrian Seni Kehidupan yang Penuh Filosofi
Dari Jerez hingga Jubail, dari istana Andalusia hingga pantai Sumba, benang merahnya sama, equestrian adalah dunia yang lahir dari keseimbangan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati datang dari kendali, bukan dominasi, dari hubungan yang terbangun antara manusia dan hewan, bukan dari ambisi semata.
Di tangan para bangsawan, seniman, dan penikmat gaya hidup premium, olahraga ini tumbuh menjadi bentuk pernyataan diri sebuah art of living yang penuh filosofi.
Mungkin itulah mengapa dunia equestrian selalu memikat kalangan atas. Ia bukan sekadar tontonan, tapi pengalaman yang menuntut kesabaran, disiplin, dan rasa hormat terhadap tradisi. Ia memadukan estetika dan performa, menggabungkan ketegasan dengan kelembutan, serta menghadirkan ruang refleksi yang tak bisa ditukar oleh hiruk pikuk modernitas.
Ketika lampu arena meredup dan hanya terdengar napas kuda yang berembus lembut di udara, kita diingatkan bahwa kemewahan sejati tak selalu tentang gemerlap atau kemegahan. Kadang, berwujud dalam momen sederhana ketika manusia, alam, dan sejarah berpadu dalam harmoni sempurna di atas pelana.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!