ID EN

Transformasi Olahraga China, AI Jadi Senjata Baru Tingkatkan Performa dan Efisiensi

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:27

Penulis: Arif S

Stadion di China.
Ilustrasi - Stadion di China.
Sumber: Envato

Industri Olahraga China tengah memasuki era baru. Jika sebelumnya teknologi hanya menjadi pelengkap, kini kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengambil peran sentral dalam hampir seluruh aspek olahraga, mulai dari latihan kebugaran, pengelolaan stadion, hingga penyelenggaraan kompetisi.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari transformasi besar di negeri Tirai Bambu. AI tidak lagi sekadar digunakan untuk mengumpulkan data, tetapi juga membantu pelatih, atlet, pengelola venue, dan penyelenggara acara mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat.

Salah satu perkembangan paling menonjol di sektor kebugaran. Latihan berbasis AI menjadi tren utama di berbagai pusat kebugaran di China karena mampu memberikan program lebih personal sesuai kebutuhan pengguna.

Perusahaan Shuhua Sports, pemasok alat kebugaran untuk Komite Olimpiade China, menjadi salah satu pelopor penerapan teknologi tersebut. Mereka meluncurkan solusi gym berbasis AI yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan latihan berbasis sains.

Sistem tersebut bekerja dengan mengumpulkan data kardiopulmoner melalui treadmill pintar dan mengukur kekuatan otot menggunakan perangkat digital. Seluruh informasi kemudian dianalisis secara real-time dan disajikan melalui aplikasi di ponsel pengguna.

"Solusi AI kami berfungsi sebagai pelatih pribadi digital dengan biaya terjangkau, yang dapat menghasilkan rencana latihan berbeda untuk setiap pengguna," ujar Wakil Presiden Shuhua Sports, Shi Yong.

"Sementara itu, pengelola tempat latihan kebugaran dapat menyesuaikan strategi mereka secara fleksibel."

Inovasi serupa juga bermunculan dari berbagai perusahaan teknologi olahraga di China. Impulse Fitness, perusahaan berbasis di Qingdao mengembangkan alat stair climber pintar untuk kebutuhan pelatihan profesional. 

Di Hangzhou, Ease Future menghadirkan robot pijat untuk membantu pemulihan otot setelah berolahraga. Sementara itu, perusahaan Suzhou Qiber menggabungkan olahraga dan hiburan melalui sepeda kebugaran, terintegrasi dengan permainan interaktif.

Dampak AI tidak hanya terasa di ruang latihan. Teknologi ini mulai mengubah cara stadion dan fasilitas olahraga beroperasi sehari-hari.

Metaspace, perusahaan pengembang kubah bertekanan udara, menciptakan sistem manajemen venue berbasis AI yang mampu mengontrol kondisi lingkungan dalam ruangan secara otomatis. Sistem tersebut juga dapat mengatur pemeliharaan peralatan sekaligus membantu mengurangi konsumsi energi.

Keberadaan platform cerdas memungkinkan pengelola venue melakukan analisis arus pengunjung, meningkatkan kualitas layanan pelanggan, serta memantau pola konsumsi pengguna secara lebih efektif.

Menurut engineer senior Institut Ilmu Fisika Hefei Akademi Ilmu Pengetahuan China, Chen Liangfeng, masa depan stadion tidak lagi hanya bergantung pada kemegahan fasilitas fisik.

"Tempat olahraga yang paling kompetitif di masa depan bukanlah yang memiliki perangkat keras paling canggih, melainkan yang benar-benar memahami pelanggan," kata Chen.

Transformasi Digital juga merambah dunia kompetisi olahraga. AI kini membantu penyelenggara mengelola perlombaan secara lebih efisien, mulai dari pencatatan waktu hingga sistem Klasemen secara real-time.

Wakil Direktur Komite Pariwisata Olahraga Asosiasi Taman Nasional dan Situs Wisata China, Li Chungang, menjelaskan sistem acara cerdas yang digunakan dalam lomba lari, balap sepeda, dan orienteering mampu memangkas biaya sekaligus menyederhanakan operasional penyelenggaraan.

"Kota Tua Lijiang telah mengadopsi sistem ini untuk mendukung pencatatan kehadiran secara luring dan pemeringkatan daring secara real-time, sehingga penyelenggara dapat menggelar acara olahraga berskala kecil sepanjang tahun," kata Li.

Di level internasional, penggunaan AI semakin terlihat. Teknologi bullet-time yang digunakan pada Olimpiade Paris 2024 dan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 menjadi contoh bagaimana kecerdasan buatan mampu meningkatkan pengalaman menonton bagi penonton di seluruh dunia.

Selain itu, teknologi iklan multibahasa berbasis AI pada UEFA Euro 2024 menunjukkan inovasi digital kini menjadi bagian penting dalam Industri Olahraga modern.

Lektor Fakultas Teknik Olahraga Universitas Olahraga Beijing, Cui Yixiong, menilai masa depan olahraga akan sangat dipengaruhi kolaborasi penyelenggara turnamen, perusahaan teknologi, lembaga penyiaran, dan penyedia data olahraga.

Menurutnya, integrasi tersebut memungkinkan lahirnya Ekosistem Olahraga digital yang terus berkembang secara mandiri dan semakin efisien dari waktu ke waktu.

Perubahan besar ini juga mendapat perhatian dari Federasi Peralatan Olahraga China. Wakil Ketua sekaligus Sekretaris Jenderal federasi tersebut, Luo Jie, menegaskan AI kini bukan lagi pilihan tambahan bagi industri Olahraga Nasional.

Menurut Luo, kecerdasan buatan telah merambah seluruh lapisan industri olahraga China dan bertransformasi dari teknologi opsional menjadi mesin utama yang mendorong pertumbuhan konsumsi olahraga sekaligus membentuk ulang lanskap olahraga domestik.

Dengan perkembangan yang begitu cepat, China menunjukkan bagaimana AI tidak hanya menjadi alat bantu teknologi, tetapi juga fondasi baru dalam membangun industri olahraga modern yang lebih efisien, personal, dan kompetitif di masa depan.



Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!