ID EN

Indonesia Tanpa Gelar di Swiss Open 2026, Alwi Farhan dan Putri KW Jadi Runner-up

Selasa, 17 Maret 2026 | 08:00

Penulis: Arif S

Tunggal putra Indonesia Alwi Farhan dan wakil Jepang Yushi Tanaka
Tunggal putra Indonesia Alwi Farhan dan wakil Jepang Yushi Tanaka.
Sumber: PBSI

Harapan Indonesia untuk membawa pulang gelar dari turnamen Swiss Open 2026 pupus di partai final. Dua wakil tunggal, Alwi Farhan di sektor putra dan Putri Kusuma Wardani di sektor putri, harus puas menjadi runner-up setelah takluk dari lawan masing-masing di laga puncak yang berlangsung di St Jakobshalle, Basel, Minggu.

Alwi Farhan Akui Penampilan Antiklimaks

Di sektor tunggal putra, Alwi Farhan harus mengakui keunggulan wakil Jepang Yushi Tanaka. Unggulan keenam itu kalah dua gim langsung dengan skor 18-21, 12-21 di final.

Usai laga, Alwi menilai performanya pada partai puncak tidak sebaik yang diharapkan.

“Pasti bersyukur, ini minggu yang luar biasa dan tidak gampang juga karena banyak tantangan yang harus saya lewati. Sayang sekali di partai final saya merasa antiklimaks, tapi saya mengakui Yushi bermain lebih baik,” ujar Alwi dikutip dari PBSI.

Pebulu tangkis muda Indonesia itu mengungkapkan kondisi fisik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi performanya di final. 

Padatnya Jadwal Pertandingan membuat proses pemulihan tidak berjalan optimal setelah laga semifinal sehari sebelumnya.

“Saya merasa kurang bisa recovery lebih bagus saja setelah laga semifinal tadi malam. Saya akan kembali lebih kuat dan mencoba di lain kesempatan,” kata Alwi.

Meski gagal meraih gelar, Alwi menilai dua pekan terakhir menjadi pengalaman berharga dalam kariernya. 

Sebelumnya ia juga tampil di turnamen prestisius All England 2026 dengan level persaingan lebih tinggi.

“Dengan kondisi yang sudah tidak 100 persen saya tetap mencoba berusaha. Pengalaman untuk pertandingan berikutnya,” kata Alwi.

Putri Kusuma Wardani Tertekan di Final

Nasib serupa dialami Tunggal Putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani. Unggulan pertama itu harus mengakui keunggulan wakil Thailand Supanida Katethong setelah kalah dua gim langsung 11-21, 15-21.

Putri mengakui dirinya tidak mampu mengeluarkan permainan terbaik sejak awal pertandingan karena tekanan yang cukup besar pada laga final.

“Sebenarnya saya ingin bisa mengeluarkan permainan terbaik dari awal, tapi di lapangan merasa cukup tertekan. Supanida juga menerapkan strategi yang tepat dengan membatasi bola atas saya dan mempercepat tempo permainan,” kata dikutip dari PBSI.

Putri menilai rangkaian turnamen yang diikutinya dalam beberapa pekan terakhir memberikan banyak pelajaran berharga, terutama saat menghadapi pemain-pemain elite dunia dengan karakter permainan berbeda.

“Dari dua minggu ini saya dapat banyak pengalaman dari pemain top. Saya bisa belajar bagaimana menghadapi tipe permainan yang berbeda-beda,” katanya.

Ke depan, Putri menegaskan masih banyak aspek yang perlu ditingkatkan agar bisa tampil lebih konsisten pada turnamen besar.

“Secara keseluruhan saya harus lebih kuat lagi, baik dari fisik, teknik, maupun nonteknis seperti fokus dan kemampuan keluar dari tekanan,” pungkasnya.