Dua Bulan Melatih, Langsung Out! Apa yang Salah dengan Shin Tae-yong di Ulsan?
Jumat, 10 Oktober 2025 | 10:00
Penulis: Arif S

Sumber: PSSI
Musim lalu, Ulsan HD FC adalah raja sepak bola Korea Selatan dengan menyabet gelar K League 1. Namun hanya beberapa bulan berselang, klub ini seperti kehilangan arah dan kembali memecat pelatih untuk kedua kalinya dalam satu musim. Korban terbarunya adalah Shin Tae-yong.
Harapan besar mengiringi kedatangan Shin pada Agustus 2025. Shin datang dengan prestasi gemilang, membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia U-20 hingga tampil mengejutkan di Piala Asia 2023.
Ulsan percaya Shin bisa mengembalikan mental juara. Namun, kenyataan berjalan sebaliknya.
BACA JUGA
Kursi Pelatih Timnas Kosong, Shin Tae Yong Kirim Sinyal Siap Kembali ke Indonesia
Nama Shin Tae-yong Kembali Muncul! Kali Ini Bukan untuk Indonesia, Tapi Kandidat Pelatih Timnas Thailand
PSSI Bantah Rumor Kembalinya Shin Tae-yong, Fokus Era Baru Bangun Timnas Jangka Panjang
Klub Korea Selatan Ulsan HD FC resmi memecat Shin Tae-yong setelah mantan pelatih timnas Indonesia itu mendapatkan hasil buruk dari 10 pertandingan yang dipimpinnya.
Shin hanya diberi kesempatan dua bulan. Selama itu, tim asuhannya tak pernah benar-benar stabil.
Shin, yang ditunjuk pada Agustus, hanya bertahan dua bulan, setelah hanya membukukan dua kemenangan dalam 10 laga di semua kompetisi. Sementara delapan laga lainnya hanya menghasilkan empat seri dan empat lainnya kalah.
Keputusan pemecatan Shin diumumkan klub dengan singkat namun tegas.
“Ulsan HD FC mengakhiri kemitraan mereka dengan pelatih Shin Tae-yong,” tulis Ulsan HD melalui akun media sosialnya, Kamis 9 Oktober 2025.
Dua kemenangan yang diraih Ulsan HD bersama Shin adalah 1-0 melawan Jeju SK di K League 1 pada 9 Agustus dan 2-1 dari Chengdu Rongcheng di ajang AFC Champions League pada 17 September.
Meski demikian, klub tetap memberikan penghormatan terakhir.
“Terima kasih kepada pelatih Shin Tae-yong atas kerja keras anda untuk tim sejauh ini dan saya akan mendukung anda di masa depan,” tambah klub itu.
Performa Turun, Identitas Hilang
Bukan hanya soal menang atau kalah. Ulsan kehilangan jati diri sebagai tim dominan. Mereka tidak stabil, tidak tajam, dan tidak solid.
Hasil buruk ini membuat Ulsan HD yang musim lalu juara liga, terdampar ke posisi 10 dengan 37 poin dari 32 pertandingan.
Lebih parah lagi, performa musim ini secara keseluruhan menunjukkan keterpurukan besar:
Mereka hanya meraih sembilan kemenangan, sementara sisanya 10 seri dan 13 kekalahan.
Dari sisi produktivitas, tim seperti kehilangan taring. Tim asuhan Shin hanya mencetak 10 gol dan kebobolan 16 gol.
Bagi klub sebesar Ulsan, angka ini bukan sekadar statistik tetapi alarm bahaya. Tim juara tidak boleh kehilangan daya serang, apalagi mental menang.
Bukan Masalah Shin Semata, Tapi Krisis Sistemik
Yang membuat situasi makin pelik adalah Shin bukan pelatih pertama yang jadi tumbal.
Ini kali kedua klub memecat pelatihnya musim ini. Sebelumnya, mereka mengganti Kim Pan-gon pada Agustus setelah tak meraih kemenangan dalam 10 pertandingan.
Dua pemecatan dalam satu musim menunjukkan, Ulsan tidak hanya gagal secara taktik, tetapi juga secara struktur dan manajemen.
Namun dalam sepak bola modern, klub juara tak bisa hidup dari nostalgia. Dengan posisi di papan bawah dan peluang ke Asia semakin menipis, manajemen memilih jalan tercepat, yaitu mengganti pelatih.
Shin datang membawa harapan, tetapi sistem rapuh, performa yang tak kunjung membaik, dan ekspektasi tinggi juara membuat posisinya mustahil dipertahankan.
Pada akhirnya, bukan karena satu kekalahan, melainkan karena Ulsan tidak melihat masa depan bersamanya.***










