Riset Global Ungkap Motivasi Traveling Tiap Negara, Indonesia Ternyata Punya Ciri Unik
Selasa, 9 Desember 2025 | 17:00
Penulis: Arif S

Sumber: Pixabay
Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu hal, yaitu motivasi. Menguji adrenalin di tebing tinggi, mencari ketenangan di tepi pantai atau sekadar berhenti dari rutinitas. Riset terbaru mengungkap alasan seseorang bepergian bisa sangat dipengaruh kewarganegaraan mereka.
Riset ini dilakukan Booking.com dengan melibatkan 53.492 responden berusia 18 tahun ke atas. Selain itu responden telah melakukan perjalanan setidaknya sekali dalam 12 bulan terakhir, dan berperan dalam pengambilan keputusan.
Survei dilakukan secara online antara 16 Oktober-12 November 2018, untuk menangkap pola travelling global secara lebih akurat.
BACA JUGA
Kebiasaan Kecil Sebelum Rebahan, Tips Traveler Menginap Aman di Hotel
Tips Traveling Aman Saat Cuaca Ekstrem di Musim Liburan
Rekomendasi Destinasi Aman Liburan Akhir Tahun di Tengah Musim Hujan
Studi ini tidak hanya memotret preferensi wisata, tetapi juga membuka peta besar motivasi perjalanan manusia di berbagai budaya.
Indonesia: Menjadikan Bersantai Sebagai Tujuan Utama
Di tengah hiruk pikuk kota dan kerja tanpa henti, kebanyakan traveller Indonesia punya motivasi sederhana, bersantai.
Sebanyak 90% traveller Indonesia menyebut bahwa meluangkan waktu untuk bersantai adalah motivasi terpenting dalam perjalanan mereka.
Bagi banyak orang, traveling bukan lagi tentang melihat dunia, melainkan tentang memberi ruang bagi diri sendiri.
Denmark dan Prancis: Kebebasan Menentukan Tujuan
Orang Denmark dan Prancis membawa semangat sama dalam perjalanan. Mereka ingin bebas melakukan apa pun yang diinginkan. Traveling, bagi mereka, bentuk pelarian dari rutinitas yang penuh struktur. Perjalanan menjadi ruang untuk spontanitas.
Argentina: Berkunjung Demi Nostalgia
Bagi banyak warga Argentina, perjalanan adalah menjelajah waktu. Sebanyak 73% traveller dari negara tersebut memilih kembali ke tempat masa lalu yang meninggalkan memori tak terlupakan. Nostalgia menjadi kompas pemandu langkah mereka.
China dan Taiwan: Mencari Kesederhanaan Hidup
Dalam budaya serba cepat dan kompetitif, traveler dari China (83%) dan Taiwan (76%) justru mencari kesederhanaan. Mereka ingin merasakan sensasi hidup lebih tenang, lebih pelan, dan lebih dekat dengan alam.
Jepang, Jerman, Hong Kong: Menghindari Tuntutan Rumah
Beban pekerjaan, ekspektasi sosial, hingga struktur kehidupan yang tertata membuat traveler Jepang (66%), Jerman (72%), dan Hong Kong (80%) memilih perjalanan untuk menghindari tuntutan di rumah. Traveling menjadi mode bertahan hidup, sebuah upaya mencuri jeda.
India dan Filipina (dan Indonesia): Status Sosial Masih Jadi Dorongan Utama
Dalam beberapa budaya, traveling masih terkait dengan status sosial. Traveller Indonesia (75%), India (75%), dan Filipina (80%) mengatakan motivasi mereka adalah pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi teman.
Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi juga cara membangun identitas sosial.
Rusia, Jerman, Belanda: Mengejar Tantangan dan Kesenangan
Di sisi lain, traveler Rusia, Jerman, dan Belanda cenderung mengejar pengalaman penuh energi. Mereka mencari tantangan dan kesenangan saat menghabiskan waktu luang. Bagi mereka, memaknai perjalanan sebagai arena eksplorasi dan pembuktian diri.
Wajah Traveling Global: Cermin Perbedaan Budaya
Riset ini menggambarkan betapa perjalanan tidak pernah sekadar perpindahan geografis. Ia adalah refleksi budaya, preferensi hidup, dan cara manusia merasa kembali utuh.
Mulai dari nostalgia, status sosial, tantangan, pelarian, hingga sekadar bersantai. Setiap passport membawa cerita berbeda tentang apa yang membuat seseorang bangun, berkemas, dan kembali menjelajah dunia.***










