Sentul, Bogor – Dalam suasana santai namun sarat visi di kawasan Sentul, Jawa Barat, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim duduk bersama tim @Indotravelsport, Syafira dan Raisa, untuk membedah masa depan "Kota Hujan". Selama satu jam perbincangan eksklusif, Dedie memaparkan transformasi besar Bogor dari sekadar kota singgah menjadi barometer sport tourism dan wisata sejarah kelas dunia di Indonesia.
Evolusi Identitas: Bogor Lebih dari Sekadar Kuliner dan Macet
Membuka diskusi, Dedie menegaskan bahwa identitas Bogor kini tengah berevolusi secara fundamental. Meski publik selama puluhan tahun kadung jatuh cinta pada kuliner legendaris seperti Sop Buntut Mak EMun, Laksa Gang Aut, hingga Doclang, potensi masa depan Bogor justru terletak pada kekayaan alam dan penguatan infrastruktur olahraga yang terintegrasi.
"Bogor memiliki indeks harapan hidup mencapai 75,6 tahun. Ini adalah indikator bahwa kualitas udara dan lingkungan kita sangat mendukung gaya hidup sehat. Semangat berolahraga inilah yang ingin kita kuatkan sebagai pondasi mesin ekonomi baru bagi warga," ungkap Dedie.
Ambisi Menjadi Kiblat Sport Tourism & City of Martial Arts
Strategi besar telah dicanangkan untuk menjadikan Bogor sebagai City of Martial Arts dan pusat olahraga lari nasional. Saat ini, Pemkot Bogor tengah melakukan renovasi total pada Gelanggang Olahraga (GOR) Pajajaran agar memenuhi standar internasional, termasuk perbaikan lintasan atletik dan kolam renang Mila Kencana. Tak hanya itu, pembangunan jalur pedestrian sepanjang 26-30 km kini memungkinkan warga maupun turis menikmati estetika kota hanya dengan berjalan kaki atau berlari.
Menurut Dedie, dukungan lingkungan yang asri akan membuat setiap Event Olahraga, seperti trail run yang sudah diminati mancanegara, memberikan dampak domino yang signifikan bagi UMKM dan sektor perhotelan lokal. "Daya dukung kotanya sangat kuat. Apapun event-nya, Bogor sudah siap secara fasilitas," tambahnya.
Inovasi Trem Pakuan: Solusi Mobilitas Modern Berbasis Atraksi
Salah satu poin paling visioner adalah rencana pengoperasian Trem Pakuan. Dedie menjelaskan bahwa trem ini akan menjadi solusi mobilitas modern sekaligus atraksi wisata ikonik yang menghubungkan titik-titik krusial seperti Stasiun Bogor, Kebun Raya, hingga Istana Bogor.
"Ke depan, konektivitas adalah kunci. Orang dari Jakarta cukup naik LRT ke Bogor, lalu keliling kota menggunakan trem. Kami sedang membangun ekosistem transportasi yang membuat wisatawan merasa nyaman tanpa harus terjebak kemacetan angkot," jelasnya. Hal ini sejalan dengan aturan pembatasan usia angkutan kota untuk menciptakan wajah transportasi yang lebih segar di era Kereta Cepat Whoosh.
Menjaga Akar Sejarah lewat Museum Pakajaran dan 'Hidden Gem' Selatan
Di sisi lain, wisata sejarah tetap menjadi jangkar identitas. Dengan tujuh museum ikonik, Bogor menawarkan edukasi sejarah yang mendalam bagi generasi muda. Dedie juga membagikan kabar terbaru mengenai pengembangan Museum Pakajaran di Batu Tulis. Proyek prestisius ini mendapatkan dukungan koleksi dari kementerian serta data riset internasional dari Universitas Leiden, Belanda.
Selain itu, Pemkot Bogor tengah memacu pengembangan infrastruktur di wilayah Bogor Selatan. Salah satu proyek ambisinya adalah penyelesaian jalur Bogor Inner Ring Road (BIRR) dan rencana pembangunan jembatan ikonik yang menghubungkan Kelurahan Genteng dan Pamoyanan. Jembatan ini diprediksi akan menyuguhkan pemandangan spektakuler Gunung Salak dan Gunung Gede, dengan latar Sungai Cisadane yang disebut-sebut akan menyerupai suasana di San Francisco.
Sinergi Tanpa Batas Administrasi
Menutup perbincangan, Dedie menekankan bahwa kemajuan pariwisata Bogor tidak boleh terbentur batas administrasi antara Kota dan Kabupaten. Sinergi wilayah, seperti antara Bogor dan Sentul, menjadi harga mati untuk menarik investor dan memajukan Ekonomi Kerakyatan secara luas.
Podcast ini menjadi bukti kuat bahwa di bawah kepemimpinan Dedie A. Rachim, Bogor sedang bergerak cepat menuju kota yang modern, sehat, dan berkelas dunia, tanpa pernah meninggalkan akar sejarahnya yang agung.










